Tiga kemenangan beruntun di Premier League akhirnya kembali menghampiri Tottenham Hotspur. Kemenangan meyakinkan atas Crystal Palace pada Sabtu lalu melengkapi rentetan tiga hasil positif yang terakhir kali terjadi hampir 21 bulan sebelumnya. Bagi tim yang lama terjebak dalam naik-turun performa, capaian ini menjadi sinyal bahwa konsistensi Tottenham Hotspur mulai terbentuk di bawah arahan Roberto de Zerbi.
Konsistensi memang barang mahal di London Utara dalam beberapa musim terakhir. Dua kali finis di posisi ke-17 membuat ekspektasi terhadap skuad asuhan De Zerbi selalu dibayangi kehati-hatian, bahkan ketika hasil mulai membaik. Namun, rentetan kemenangan ini memberi dasar bagi pembacaan yang lebih optimistis, terutama karena belanja besar pada bursa transfer musim panas perlahan mulai menunjukkan hasil di lapangan.

Tiga Kemenangan Beruntun dan Wajah Baru Konsistensi Tottenham Hotspur
Rentetan tiga kemenangan ini bukan catatan kecil. Terakhir kali Tottenham meraih tiga kemenangan liga secara berurutan adalah pada Februari 2025, lebih dari 600 hari sebelum laga kontra Crystal Palace. Artinya, seluruh periode panjang penuh ketidakstabilan dilewati tanpa sekali pun mampu merangkai tiga hasil positif beruntun.
Untuk melihat seberapa besar artinya, bandingkan dengan catatan sebelumnya. Dalam 26 pertandingan liga sebelum rentetan ini, Spurs hanya mengumpulkan tiga kemenangan, dengan sepuluh laga berakhir imbang dan 13 lainnya berakhir kekalahan. Jumlah tiga kemenangan yang kini mereka raih dalam tiga laga terakhir setara dengan total kemenangan mereka sepanjang rentang panjang tersebut.
Indikator lain juga menegaskan hal serupa. Ini menjadi kali pertama dalam dua tahun Tottenham mencatat dua kemenangan kandang beruntun di ajang liga. Hasil atas Crystal Palace sekaligus mengangkat mereka ke paruh atas klasemen, posisi yang terasa jauh berbeda dibandingkan dua musim terakhir ketika tim berkutat di papan bawah.
Kemenangan atas Crystal Palace yang Ditentukan Kartu Merah
Laga di Tottenham Hotspur Stadium berjalan dengan skenario yang menguntungkan tuan rumah sejak awal. Striker Crystal Palace, Jean-Philippe Mateta, diusir wasit pada menit ke-13 setelah melakukan tekel ceroboh terhadap Micky van de Ven. Bermain dengan 10 orang sejak fase awal membuat Palace kehilangan ruang untuk menekan, sementara Spurs bisa mengatur tempo dengan lebih leluasa.
Archie Gray dan Jan Paul van Hecke menjadi pencetak gol dalam pertandingan ini. Keduanya memanfaatkan penguasaan bola yang dominan untuk membongkar pertahanan tim tamu yang bermain dengan satu pemain lebih sedikit. Kemenangan itu terasa meyakinkan, meski datang dengan bantuan faktor eksternal berupa kartu merah.
Menariknya, suasana sebelum kick-off sama sekali tidak mencerminkan keyakinan. Anggapan yang berkembang di dalam stadion justru bahwa kedatangan tim yang sedang terpuruk merupakan laga jebakan, bukan peluang emas. Kekhawatiran itu wajar mengingat sejarah Spurs yang kerap kehilangan poin di laga-laga seperti ini, tetapi para pemain menolak mengikuti pola lama tersebut dan mengambil kesempatan yang diberikan Mateta.
Fondasi dari Coventry City dan Chelsea
Rentetan ini tidak muncul tiba-tiba. Kemenangan liga pertama musim ini saat menjamu Coventry City menjadi titik balik yang membuka jalan bagi dua hasil berikutnya. Sebelum laga itu, ada semacam hambatan psikologis yang membuat tim sulit keluar dari tekanan, dan kemenangan tersebut menjadi kunci yang melepaskannya.
Modal itu kemudian diperkuat oleh hasil luar biasa di Stamford Bridge. Kemenangan atas Chelsea itu hanya menjadi kemenangan liga kedua Tottenham di markas rival sekota tersebut dalam 36 tahun terakhir. Catatan itu menunjukkan bahwa keberhasilan mereka belakangan ini bukan semata soal menghadapi lawan lemah, tetapi juga soal kemampuan mencuri hasil di tempat yang secara historis sulit ditaklukkan.
Sejak momen itu, suasana di dalam stadion berkapasitas besar milik Spurs berubah. Perubahan mood tersebut terasa nyata bagi mereka yang menyaksikan langsung, dan kini tercermin pada cara tim bermain serta cara suporter menyikapi setiap pertandingan kandang.
Sabar untuk Tonali dan Fernandes yang Berharga Mahal
De Zerbi sejak awal meminta kesabaran untuk dua rekrutan besarnya di lini tengah. Sandro Tonali didatangkan dari Newcastle United dengan nilai sekitar £100 juta, sementara Mateus Fernandes dibeli dari West Ham United seharga £85 juta. Keduanya memulai petualangan di klub baru dengan performa yang belum sesuai ekspektasi, dan butuh waktu untuk beradaptasi.
Kesabaran itu kini mulai berbuah. Tonali menunjukkan tanda kebangkitan saat melawan Coventry City, lalu menjadi sosok kunci ketika menghadapi Palace melalui kekuatan lari, kekuatan fisik, dan kemampuannya menciptakan peluang. Sementara itu, Fernandes tampil lincah sepanjang pertandingan dan terus mencari celah serta umpan yang bisa membedakan keadaan.
Ada pula Dejan Kulusevski yang kembali setelah absen panjang karena cedera. Masuk sebagai pemain pengganti, ia mendapat sambutan meriah dari penonton dan langsung memberi ancaman nyata, termasuk memaksa kiper Palace, Dean Henderson, melakukan penyelamatan bagus. Kombinasi kebangkitan pemain mahal dan kembalinya pemain kunci ini memperkuat kesan bahwa uang sekitar £300 juta yang dibelanjakan pada musim panas mulai menunjukkan hasil yang sepadan.
Statistik yang Menegaskan Superioritas Spurs
Angka-angka pertandingan menggambarkan betapa sepihaknya laga tersebut. Tottenham melepaskan 34 tembakan dan hanya menghadapi dua tembakan balik dari lawan. Selisih 32 tembakan itu merupakan yang terbesar bagi Spurs melawan lawan mana pun sejak pencatatan Opta dimulai pada musim 2003-04.
Bukan hanya itu, selisih tersebut juga menjadi yang terbesar bagi tim mana pun di Premier League sejak Liverpool mencatat 36 tembakan berbanding empat tembakan Wolverhampton Wanderers pada Mei 2024. Dominasi Spurs juga terlihat dari penguasaan bola sebesar 79,4 persen, yang menjadi catatan tertinggi kedua mereka di ajang ini setelah 80,2 persen saat melawan Newcastle United pada Agustus 2019.
Meski demikian, dominasi angka tidak otomatis berarti penyelesaian akhir yang sempurna. Sejumlah peluang terbuang, dan justru dari situlah De Zerbi melihat pekerjaan rumah yang masih harus dibereskan oleh anak asuhnya.
Peringatan De Zerbi soal Ambisi dan Ketahanan
Dalam wawancaranya dengan Match of the Day BBC Sport, De Zerbi menyoroti semangat dan fokus timnya. Menurutnya, para pemain tidak kehilangan konsentrasi dan memberikan reaksi luar biasa setiap kali kehilangan bola. Ia juga menilai timnya seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol dari banyaknya peluang yang tercipta.
Pelatih asal Italia itu menekankan perlunya tim bermain lebih kejam, terutama di sepertiga akhir pertandingan, dan lebih tajam dalam penyelesaian akhir. Ia mengaku senang dengan hasilnya karena sejak awal sudah tahu laga ini akan berjalan sulit. Kritik halus itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin rentetan kemenangan ini membuat standar tim mengendur.
De Zerbi juga menegaskan bahwa Tottenham tidak boleh berhenti bersikap ambisius. Ia mengingatkan bahwa timnya tidak boleh melupakan posisi mereka di klasemen hanya dua pekan sebelumnya, dan bahwa tiga kemenangan beruntun belum cukup untuk mengubah keadaan klub dalam dua sampai tiga musim terakhir. Ia ingin perilaku, semangat, dan cara mempersiapkan setiap pertandingan tetap sama. Setelah jeda internasional, ia mengaku berbicara terbuka dengan para pemain dan memutuskan untuk mengubah suasana dengan cepat, karena dalam sepak bola waktu tidak bisa diminta, apalagi dengan materi pemain bagus yang tersedia.
Tekanan di Kubu Lawan dan Arah ke Depan
Di sisi lain, kekalahan ini menambah tekanan bagi Crystal Palace dan pelatih Pierre Sage. Meski bertahan dengan 10 pemain, anak asuh Sage tidak tampak menyerah dan tetap berjuang sepanjang laga. Namun, posisi mereka kini berada di tiga terbawah klasemen dengan hanya dua kemenangan dari sembilan pertandingan liga, sehingga sorotan terhadap sang pelatih dipastikan meningkat.
Bagi Tottenham, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa rentetan ini bukan sekadar fase singkat. Konsistensi yang selama ini menghindar harus dirawat lewat performa stabil di laga-laga berikutnya, termasuk ketika menghadapi lawan yang tidak memberi keuntungan berupa kartu merah. Kunci lain ada pada keberlanjutan performa Tonali dan Fernandes, karena sumbangan keduanya akan sangat menentukan seberapa jauh tim ini bisa melangkah.
Ada kesan bahwa sesuatu memang mulai bergerak di Spurs, dan kurva performa mereka untuk sementara mengarah ke atas. Namun, sejarah beberapa tahun terakhir cukup menjadi pengingat bahwa satu rentetan kemenangan belum menjamin apa pun.
Yang jelas, tiga kemenangan beruntun telah memberi Tottenham pijakan untuk berbicara lebih optimistis tentang masa depan mereka. Kini tugas De Zerbi dan para pemainnya adalah memastikan momentum ini tidak berhenti sebagai catatan singkat, melainkan menjadi awal dari konsistensi yang selama ini mereka cari.








