Pertemuan Dua Pelatih di Panggung Final
Final Piala Dunia 2026 mempertemukan dua pelatih yang memiliki ikatan unik: Luis de la Fuente dari Spanyol dan Lionel Scaloni dari Argentina. Mereka bukan hanya rival di lapangan, tetapi juga guru dan murid yang pernah duduk sekelas di ruang kuliah. Kisah De la Fuente dan Scaloni dimulai dari sebuah ruang kelas di federasi sepak bola Spanyol pada tahun 2017.

Saat itu Scaloni, yang baru saja pensiun sebagai pemain, mendaftar kursus lisensi kepelatihan UEFA Pro. De la Fuente, yang saat itu masih menjadi pelatih tim U-19 Spanyol, mengajar modul teknik. Scaloni lulus dengan nilai terbaik di angkatannya dan selalu mengakui bahwa De la Fuente memberinya “bantuan besar” dalam proses belajar.
Keduanya memiliki latar belakang berbeda namun tiba di jalur yang sama. De la Fuente adalah produk sistem pembinaan Spanyol, sementara Scaloni dibentuk oleh budaya ruang ganti khas Argentina. Namun, mereka sama-sama membangun tim yang berfondasi keluarga dan nilai-nilai sportivitas—bahkan keduanya adalah penganut Katolik yang taat.
Luis de la Fuente: Dari Kelas ke Panggung Dunia
Awal Mula Karier Kepelatihan
De la Fuente lahir dan besar di Haro, wilayah penghasil anggur La Rioja. Setelah pensiun sebagai pemain pada 1994, ia menjalani berbagai peran di klub-klub lapis bawah Spanyol. Puncaknya, ia dipecat dari Deportivo Alaves pada 2011 dan menganggur selama 18 bulan—hampir meninggalkan sepak bola selamanya.
Kesempatan datang dari iklan lowongan di koran. Ia menelepon mantan pelatih timnas Spanyol, Inaki Saez, yang merekomendasikannya. Kontrak pertama hanya tiga bulan untuk membawa tim U-19 ke Piala Eropa. Meski kalah di semifinal, ia diberi perpanjangan kontrak. Bersama Rodri, Unai Simon, dan Mikel Merino, ia memenangkan Piala Eropa U-19 berikutnya.
Filosofi yang Membangun Keluarga
De la Fuente menangani sebagian besar skuad Spanyol saat ini sejak usia remaja—mulai dari U-19, U-21, hingga Olimpiade. Ia mengenal Dani Olmo, Pedri, Mikel Oyarzabal, dan Marc Cucurella serta keluarga mereka selama satu dekade. Metodenya: menumbuhkan rasa hormat pada lawan, proses, serta kesabaran dan ketenangan.
Nilai kekeluargaan sangat kental dalam keseharian De la Fuente. Setengah jam sebelum final Euro 2024, ia masih menelepon untuk memastikan keluarganya tiba dengan selamat di stadion. Dalam Piala Dunia ini, ketika mengetahui ibu fotografer tim meninggal, ia mengumpulkan seluruh pemain untuk berpelukan. Anaknya, Alberto, menjadi anggota staf kepelatihan Spanyol.
Lionel Scaloni: Dari Ruang Ganti ke Ruang Kelas
Pendidikan Nonformal di Lapangan Argentina
Berbeda dengan De la Fuente, pendidikan Scaloni justru terjadi di ruang ganti Argentina yang memiliki hierarki tak tertulis. Pemain senior memegang otoritas yang harus dihormati pelatih. Ia tumbuh di Pujato, kota kecil dekat Rosario, tempat keluarganya masih bertani jagung, gandum, dan kedelai. Ayahnya, Angel, sering membawanya dan saudaranya berlatih sepak bola.
Scaloni menjadi bagian dari tim Argentina yang menjuarai Piala Dunia U-20 1997 di Malaysia, bersama Walter Samuel dan Pablo Aimar—kini keduanya duduk di bangku cadangan sebagai asistennya. Dari turnamen itu ia juga membawa pulang ketakutan terbang akibat pendaratan darurat.
Perjalanan Karier dan Psikologi
Ia bermain lebih dari 200 laga untuk Deportivo La Coruna, membantu mereka meraih gelar La Liga, lalu berkeliling klub termasuk peminjaman ke West Ham United pada 2006. Pensiun pada 2014-15 lebih berat dari yang dibayangkan. Ia melatih anak-anak usia 14 tahun di klub kecil Son Caliu, dekat rumahnya di Mallorca, untuk mengisi kekosongan. Ia pun menyarankan setiap klub memiliki psikolog untuk membantu pemain masa transisi pensiun.
Karier kepelatihannya tak sepanjang De la Fuente. Ia menjadi asisten Jorge Sampaoli di Sevilla lalu timnas Argentina. Ketika Sampaoli dipecat setelah Piala Dunia 2018, Scaloni ditunjuk sebagai pengganti. Kritik soal kurang pengalaman tidak menyurutkan langkahnya. Kehebatannya bukan pada taktik, melainkan kemampuannya menciptakan suasana ruang ganti yang hangat: barbekyu, malam karaoke, dan mencampur bintang dengan momen biasa.
Setelah membawa Argentina juara Copa America dan Piala Dunia, Scaloni mulai menemui psikolog. Adrenalin yang mereda, tekanan, dan penyakit orang tuanya membuatnya butuh terapi—dan bersepeda jarak jauh membantunya melewati masa sulit.
Persamaan yang Mengikat: Kontinuitas Lebih Penting dari Perubahan
Kedua pelatih membangun tim dengan kekuatan bukan pada individu, melainkan kepercayaan yang lahir dari kelompok yang dikelola dengan baik. Mantan direktur federasi Spanyol, Fernando Hierro, menggambarkan De la Fuente sebagai “ahli bahan mentah sepak bola Spanyol yang membangun keluarga tempat mereka menikmati permainan.” Deskripsi itu bisa persis diterapkan pada Argentina-nya Scaloni.
Mereka lebih memilih kontinuitas daripada perubahan besar. De la Fuente setia pada generasi yang ia latih sejak remaja. Scaloni mempertahankan pendukung utama Messi bahkan setelah kalah dari Brasil di semifinal Copa America 2019—dan hasilnya terbayar di Maracana dua tahun kemudian.
Ketika ditanya arti sukses bersama tim nasional, keduanya menjawab serupa. De la Fuente bicara tentang “kebahagiaan melihat rakyat negerimu menikmati lagi.” Scaloni selalu menyebut para suporter yang berjuang mendukung tim di stadion dan yang menanti di rumah.
Pertemuan Kedua di Final: Guru dan Murid Bersua Lagi
Pada Minggu nanti, sang guru dan murid akan bertemu kembali. Mereka mungkin akan mengingat bahwa kalah adalah bagian dari olahraga. Namun, kemenangan akan membuat kisah dua orang yang sempat terbuang dari sepak bola ini semakin mustahil—kini mereka berhasil menulis ulang namanya di catatan sejarah.
Baik De la Fuente maupun Scaloni telah membuktikan bahwa nilai keluarga, kepercayaan, dan kontinuitas mampu mengantarkan tim ke puncak dunia. Final Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan Spanyol versus Argentina, melainkan puncak dari perjalanan dua sahabat yang berawal dari bangku kuliah.








