Celtic mencatatkan kerugian setelah pajak sebesar £4,8 juta untuk tahun buku yang berakhir 30 Juni, berbalik arah dari laba £33,9 juta yang dibukukan 12 bulan sebelumnya. Manajemen klub menyebut pergeseran besar ini terutama disebabkan kegagalan mengamankan slot Liga Champions pada musim lalu, sehingga sumber pendapatan utama dari kompetisi elite Eropa itu hilang. Dalam laporan yang sama, pendapatan klub turun 22,7% menjadi £111 juta, sementara saldo kas di rekening tercatat £66,4 juta, menyusut dari £77,3 juta pada periode pembanding.
Laporan keuangan Celtic ini menjadi sorotan bukan hanya karena angka merahnya, tetapi juga karena terbit di tengah musim yang penuh gejolak. Selama 2025-26 klub memakai tiga pelatih berbeda, kehilangan ketua yang mundur dengan alasan menerima ancaman, dan tetap harus bersaing di papan atas Liga Skotlandia. Kombinasi tekanan finansial dan ketidakstabilan kepemimpinan itulah yang membuat publik menanti penjelasan resmi dari jajaran direksi.

Rincian Angka: Pendapatan Turun 22,7% dan Kas Menyusut
Angka paling mencolok dalam laporan tersebut adalah penurunan pendapatan dari £143,6 juta pada 2025 menjadi £111 juta. Selisih sekitar £32,6 juta itu sejalan dengan hilangnya pemasukan dari Liga Champions, yang biasanya menyumbang dana hak siar dan bonus pertandingan dalam jumlah besar. Karena itu, meski basis pendukung dan aktivitas komersial klub tetap kuat, struktur penerimaan Celtic sangat terpengaruh oleh ada atau tidaknya mereka di kompetisi Eropa paling bergengsi tersebut.
Di sisi lain, posisi kas juga melemah meski belum masuk kategori mengkhawatirkan. Saldo kas turun menjadi £66,4 juta dari sebelumnya £77,3 juta, yang berarti klub masih memiliki bantalan finansial cukup besar. Namun penurunan ini menunjukkan bahwa biaya operasional dan belanja pemain tidak lagi ditutup oleh lonjakan pendapatan seperti pada tahun-tahun saat Celtic tampil di Liga Champions.
Kerugian £4,8 juta sendiri relatif kecil jika dibandingkan skala pendapatan klub, tetapi maknanya penting. Sebab, itu adalah pertama kalinya dalam siklus terakhir klub tidak menutup tahun dengan keuntungan, dan menjadi sinyal bahwa ketergantungan pada pendapatan kompetisi Eropa perlu dievaluasi.
Tiga Pelatih dalam Satu Musim dan Latar Belakang Turbulensi
Ketidakstabilan di bangku kepelatihan menjadi latar belakang yang tidak bisa dipisahkan dari laporan ini. Brendan Rodgers meninggalkan klub, Wilfried Nancy kemudian diberhentikan hanya setelah delapan pertandingan, dan tongkat estafet akhirnya dipegang kembali oleh Martin O’Neill. Pergantian tiga pelatih dalam satu musim bukan hanya persoalan teknis, karena setiap perubahan biasanya membawa konsekuensi pada biaya kontrak, perombakan skuad, dan arah permainan tim.
Di level manajemen, perubahan juga terjadi. Ketua Peter Lawwell pensiun pada Desember dengan alasan menerima “pelecehan dan ancaman”, sebuah keterangan yang menegaskan bahwa tekanan terhadap pengurus klub tidak hanya datang dari sisi hasil pertandingan. Brian Wilson, yang menjabat sebagai ketua sementara, menggambarkan musim tersebut sebagai periode yang “lebih bergejolak dari apa pun yang diinginkan siapa pun”.
Meski demikian, Wilson memberi apresiasi kepada O’Neill dan stafnya karena “menunjukkan ketahanan luar biasa” hingga mampu mempersembahkan gelar ganda, yakni juara liga dan Piala Skotlandia. Prestasi itu menjadi penyeimbang narasi, menunjukkan bahwa di tengah gejolak internal, tim tetap mampu meraih hasil di lapangan. Bagi manajemen, capaian tersebut sekaligus menjadi argumen bahwa fondasi sepak bola klub belum runtuh.
Belanja £31,6 Juta dan Bisnis Transfer yang Tak Diungkap
Wilson mengungkapkan bahwa Celtic mengeluarkan £31,6 juta pada bursa musim panas untuk merekrut Kasper Hogh, Camilo Duran, Mika Baur, Haissem Hassan, Joel van den Berg, dan Jordan Lotomba. Klub juga menggaet beberapa pemain dengan status pinjaman, yaitu Landon Emenalo, Shumaira Mheuka, Sam Johnstone, dan Oliver Sorensen. Angka pengeluaran itu menunjukkan bahwa klub tetap agresif berinvestasi pada skuad meskipun pendapatan sedang menurun.
Yang tidak disampaikan adalah berapa besar pemasukan dari penjualan pemain, termasuk untuk nama-nama seperti Daizen Maeda, Arne Engels, dan Reo Hatate. Ketidaklengkapan informasi ini membuat gambaran neraca transfer sulit dihitung secara utuh oleh publik. Padahal, dalam model bisnis klub seperti Celtic, keuntungan dari penjualan pemain kerap menjadi penopang utama ketika pendapatan kompetisi Eropa anjlok.
Karena itu, sisi belanja menjadi penting untuk dicermati. Jika pengeluaran besar tidak diimbangi pemasukan penjualan yang sepadan, tekanan pada laporan keuangan tahun berikutnya bisa meningkat, terutama bila klub kembali gagal menembus Liga Champions. Sebaliknya, bila penjualan pemain ternyata menghasilkan dana signifikan, kerugian £4,8 juta bisa dibaca sebagai konsekuensi sementara dari siklus transfer, bukan tanda kesulitan struktural.
Dampak di Lapangan: Europa League dan Poin yang Terpangkas
Konsekuensi dari kegagalan di jalur Liga Champions juga terlihat pada kompetisi musim ini. Celtic kembali berlaga di Europa League setelah kalah mengejutkan di kandang LASK pada babak play-off Liga Champions. Kekalahan itu tidak hanya menyakitkan secara sportif, tetapi juga memperkuat dampak finansial yang sudah tampak dalam laporan tahunan, karena selisih nilai antara kedua kompetisi tersebut sangat besar.
Di dalam negeri, situasinya pun tidak sepenuhnya mulus. Celtic sudah tersingkir dari Piala Liga, dan keunggulan mereka di puncak Premiership Skotlandia terpangkas menjadi dua poin setelah dua kekalahan beruntun dari Rangers. Rangkaian hasil itu menambah tekanan pada staf pelatih dan manajemen, karena performa domestik adalah penopang utama reputasi klub sekaligus sumber pendapatan yang stabil.
Dengan kata lain, tekanan finansial dan tekanan kompetitif kini berjalan bersamaan. Klub yang ingin menjaga pendapatan tetap sehat pada tahun berikutnya praktis harus memastikan diri finis di posisi yang memberi tiket ke kompetisi Eropa bergengsi, sekaligus menghindari gejolak internal yang bisa mengganggu konsistensi tim.
Konteks Lebih Luas: Ketergantungan pada Pendapatan Eropa
Kasus Celtic mencerminkan pola yang umum dialami klub-klub besar di liga di luar lima liga top Eropa. Pendapatan dari kompetisi domestik sering kali tidak cukup untuk menutup biaya skuad yang kompetitif, sehingga dana dari Liga Champions menjadi penentu apakah pembukuan berakhir untung atau rugi. Ketika satu musim saja tanpa kompetisi itu bisa mengubah laba £33,9 juta menjadi kerugian £4,8 juta, artinya risiko finansial klub terikat erat pada performa di lapangan.
Wilson juga menyoroti perlunya perbaikan dalam “komunikasi dan keterlibatan pendukung”, dan menyebut pekerjaan itu masih “berjalan”. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa manajemen mengakui adanya jarak antara klub dan basis pendukungnya, yang diperparah oleh keputusan-keputusan besar seperti pergantian pelatih. Selain itu, klub masih mencari ketua permanen untuk mengisi kursi yang ditinggalkan Lawwell, sehingga stabilitas kepemimpinan menjadi pekerjaan rumah berikutnya.
Langkah yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan arah klub. Bila Celtic berhasil menembus kembali Liga Champions dan menstabilkan struktur manajemen, garis merah pada laporan tahun ini bisa dibaca sebagai gangguan sesaat. Namun bila tren serupa berulang, klub perlu memikirkan strategi pendapatan yang lebih terdiversifikasi agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu kompetisi.
“Peristiwa 12 bulan terakhir ini dramatis, kadang menyenangkan, dan di titik lain sangat membuat frustrasi,” ujar Wilson, merangkum perjalanan satu tahun yang berujung pada angka merah di pembukuan klub.
Kesimpulan
Laporan keuangan Celtic untuk tahun buku yang berakhir 30 Juni mencatat kerugian £4,8 juta, pendapatan turun 22,7% menjadi £111 juta, dan kas menyusut menjadi £66,4 juta. Penyebab utamanya adalah absennya klub dari Liga Champions, diperparah oleh musim yang penuh gejolak dengan tiga pelatih berbeda dan mundurnya ketua di tengah jalan. Di sisi lain, gelar ganda domestik menunjukkan bahwa performa tim di lapangan masih kompetitif.
Ke depannya, keseimbangan antara belanja pemain, pemasukan dari penjualan, dan konsistensi hasil di kompetisi domestik akan menjadi kunci. Bagi Celtic, tantangan sesungguhnya bukan sekadar kembali mencetak laba, melainkan membangun fondasi yang membuat naik-turunnya pendapatan tidak selalu berdampak besar pada stabilitas klub.








