Kritik Tuchel Usai Kemenangan Dramatis Atas Norwegia
Pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, melontarkan kritik tajam terhadap performa anak asuhnya meski berhasil melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2026. Dalam laga perempatfinal yang berlangsung di Miami, Inggris menang dramatis 2-1 atas Norwegia melalui babak perpanjangan waktu. Namun, Tuchel menganggap kemenangan itu lebih karena faktor keberuntungan.
“Kami beruntung,” kata Tuchel dalam konferensi pers usai pertandingan. “Kami mempersulit diri sendiri. Hasilnya fantastis, kami di empat besar, itu luar biasa, tapi saya tidak senang dengan performa — dalam segala hal.” Ia menyoroti banyaknya kesalahan teknis, permainan yang lamban, dan kurangnya pengulangan pola serangan yang efektif.

Tuchel menambahkan bahwa satu-satunya hal yang menyelamatkan tim adalah mentalitas. “Ini murni mentalitas,” tegas pelatih asal Jerman itu, merujuk pada ketangguhan pemainnya saat tertinggal dan tertekan.
Bellingham Bela Rekan Setim
Jude Bellingham, yang mencetak dua gol (menit ke-47 dan 93) dan menjadi pahlawan kemenangan, justru membela rekan-rekannya. Saat diminta menanggapi kritik Tuchel, ia menjawab singkat: “Ya, terserah. Ini berat di lapangan, semua pemain bekerja keras. Penghargaan saya untuk mereka yang sudah berjuang luar biasa.”
Bellingham juga menyebut kondisi pertandingan yang panas dan lembap di Miami, serta kekuatan lawan yang dipenuhi pemain kelas dunia seperti Erling Haaland, Martin Odegaard, Antonio Nusa, dan Alexander Sorloth. “Mungkin dia (Tuchel) tidak tahu rasanya bermain dalam kondisi seperti itu melawan tim sekuat mereka,” ujarnya. “Kamu tidak bisa selalu menang dengan passing ribuan kali, kadang harus menang dengan cara kotor, dan hari ini kami melakukannya.”
Performa Inkonsisten Inggris Sepanjang Turnamen
Sejak fase grup, Inggris memang belum tampil meyakinkan. Mereka menang 4-2 atas Kroasia di laga pertama, lalu ditahan Ghana, menang tipis 2-0 dari Panama, tertinggal lebih dulu sebelum mengalahkan DR Kongo, dan harus bermain dengan 10 pemain untuk menekuk Meksiko 3-2. Pola yang sama terulang saat melawan Norwegia: tertinggal lebih dulu, butuh ekstra waktu, dan mengandalkan momen individu.
Tuchel mengakui bahwa ia “mencintai” timnya, tapi tetap menuntut peningkatan. “Dengan hati saya sepenuhnya jatuh cinta pada pemain dan tim, tapi kami bisa bermain lebih baik, masih banyak yang harus diperbaiki,” ujarnya.
Pujian dari Legenda Inggris untuk Kejujuran Tuchel
Meski Tuchel dikecam Bellingham, beberapa mantan pemain justru memuji kejujuran pelatih. Alan Shearer mengatakan, “Selama bertahun-tahun kami mungkin akan mendengar seseorang berkata ‘kami bertahan bersama dan brilian’. Dia (Tuchel) pantas diacungi jempol karena tidak melakukan itu.”
Wayne Rooney menilai komentar Tuchel “tepat sasaran dalam hal mentalitas”. Rooney menyoroti karakter pemain yang tetap bertahan meski Ezri Konsa cedera dan Declan Rice ditarik keluar di babak kedua. “Karakter pemain yang membuat mereka lolos, karena untuk sebagian besar pertandingan Norwegia lebih baik,” tambahnya.
Matt Upson, mantan bek Inggris, juga mengamini bahwa 25 menit sebelum waktu normal habis, Norwegia tampak akan menang. Namun, ia yakin Inggris akan memulai semifinal dengan tempo dan pola pikir berbeda, terutama jika kondisi cuaca lebih bersahabat.
Persiapan Hadapi Argentina di Semifinal
Inggris hanya punya waktu istirahat singkat sebelum menghadapi Argentina di Atlanta pada hari Rabu. Bellingham, yang kini rata-rata mencetak satu gol per laga (total 6 gol), menjadi motor serangan utama. Namun, Tuchel mengingatkan bahwa hanya mengandalkan mentalitas tidak cukup untuk memenangkan Piala Dunia. “Kami harus bermain lebih baik, lebih cepat, lebih sedikit kesalahan,” tegasnya.
Legenda seperti Shearer dan Rooney sepakat bahwa Inggris perlu tampil lebih solid. “Mereka memang tangguh, sudah terbukti lagi dengan lolos ke semifinal,” kata Shearer. “Tapi untuk melawan Argentina, perlu peningkatan performa.”
Kesimpulannya, Inggris lolos ke semifinal Piala Dunia 2026 berkat mentalitas baja dan momen brilian individu seperti Bellingham. Namun, jika ingin melaju ke final dan merebut gelar kedua setelah 1966, Tuchel harus segera memperbaiki kelemahan teknis dan taktis timnya. Semifinal kontra Argentina akan menjadi ujian sesungguhnya.






