Duel Arsenal vs Leeds United berakhir 2-1 untuk tuan rumah di Emirates Stadium, Sabtu, dan lagi-lagi Bruno Guimaraes menjadi penentu. Gelandang asal Brasil itu masuk dari bangku cadangan, lalu mencetak gol kemenangan setelah The Gunners sempat tertinggal lebih dulu. Ini menjadi kali kedua dalam tiga pertandingan Premier League ia tampil sebagai penyelamat timnya, setelah sebelumnya memicu kemenangan 2-0 atas Sunderland pada September lewat gol pertamanya yang krusial.

Kemenangan kelima dalam enam laga liga itu membuat pasukan Mikel Arteta menyamakan poin dengan pemuncak klasemen, Manchester City. Meski begitu, perjalanan Arsenal mempertahankan gelar juara sama sekali tidak mulus. Cedera yang dialami bek Piero Hincapie menambah panjang daftar persoalan yang harus segera dibenahi.
Arsenal vs Leeds 2-1: Tiga Poin dari Bangku Cadangan
Untuk sebagian besar pertandingan, Arsenal tampil jauh dari performa terbaiknya. Tim tamu asuhan Daniel Farke bahkan lebih dulu unggul pada menit ke-55 dan sempat membuat tuan rumah kesulitan mengembangkan permainan. Baru setelah itu Riccardo Calafiori menyamakan kedudukan, sebelum Guimaraes memastikan tambahan tiga poin. Gol tersebut menjadi titik balik yang membuat Arsenal lebih percaya diri menutup laga.
Laga ini sekaligus menjadi debut penuh Guimaraes di kandang Arsenal. Pemain berusia 28 tahun tersebut masuk sebagai pengganti dan langsung memberi dampak besar terhadap jalannya pertandingan. Kualitasnya di momen-momen krusial membuat perbedaan di laga yang berjalan ketat.
Ally McCoist, yang mengomentari pertandingan di TNT Sports, menilai kemenangan semacam ini sebagai ciri khas tim juara. Menurutnya, Leeds tampil bagus selama satu jam pertama dan Arsenal baru menemukan ritmenya setelah Arteta melakukan perubahan. Ia juga menegaskan bahwa tim tamu tetap pantas berbangga dengan penampilan mereka.
“Pertandingan sepak bola yang hebat. Leeds tampil brilian selama satu jam,” kata McCoist. “Mikel Arteta melakukan perubahan ketika dibutuhkan, dan pergantian pemain memberi Arsenal apa yang mereka perlukan. Itulah yang dilakukan para juara. Leeds bisa mengangkat kepala mereka tinggi.”
Namun, muncul pertanyaan yang lebih besar setelah laga ini. Apakah kemampuan menang saat performa sedang di bawah standar adalah tanda juara sejati? Atau justru sinyal ada yang perlu dikhawatirkan Arteta dan Arsenal?
Guimaraes dan Pembelian 75 Juta Poundsterling yang Mulai Terbayar
Masuk musim sebagai juara bertahan, Arsenal ingin mendatangkan pemain besar yang membuat para rival waspada. Mereka tidak mendapatkan penyerang yang diinginkan, tetapi Guimaraes tampak bisa menjadi kedatangan kunci untuk membantu Arteta membangun kesuksesan. Rekrutan itu diharapkan menjadi pernyataan bahwa The Gunners serius mempertahankan gelar.
Gelandang berusia 28 tahun itu merupakan pembelian bertipe “menang sekarang” di puncak kariernya. Ia merespons dengan baik penampilan mengecewakan saat Arsenal kalah dari Brighton, yang menjadi debut penuh liganya. Kini ia sudah mencetak dua gol yang membantu timnya meraih poin berharga sekaligus membenarkan keputusan mengeluarkan dana besar, meski stok gelandang Arsenal sangat melimpah.
Menariknya, Guimaraes menjadi pemain pertama yang mencetak dua gol dari bangku cadangan pada musim ini. Kedua golnya lahir dari luar kotak penalti, menunjukkan kemampuannya menembak dari jarak jauh. Arteta pun tidak segan menuntut standar tinggi dari pemainnya itu.
“Dia tidak berada di level itu melawan Brighton, dan inilah level untuk Arsenal. Setiap pekan, setiap pertandingan, setiap menit, setiap aksi, kamu harus berada di level itu,” ujar Arteta. “Hari ini jauh lebih baik. Itulah yang harus kami tuntut, dan ini yang saya tuntut dari diri saya sendiri. Saya akan menuntut hal yang sama kepada para pemain, karena jika kami melakukan itu, dia akan menaikkan standar dan kami akan menjadi tim yang lebih baik.”
Pola Tertinggal Lebih Dulu dan Masalah di Lini Belakang
Kekalahan telak 0-3 di markas Brighton pada laga sebelumnya menjadi pukulan berat. Setelah itu, Arsenal kembali tertinggal lebih dulu di laga liga untuk ketiga kalinya dalam empat pertandingan. Bahkan saat menang 2-0 atas Sunderland, mereka nyaris tertinggal lebih dulu sebelum David Raya menyelamatkan sebuah penalti.
Arteta mengakui bahwa penampilan di Brighton bukan sekadar kejadian sesaat. Menurutnya, ada sesuatu yang hilang dari timnya pada laga itu. Ia menilai garis antara tampil luar biasa sebagai juara dengan tampil sangat biasa itu teramat tipis.
“Terakhir kali kami mengenakan seragam, ada sesuatu yang hilang,” kata Arteta. “Dan kami harus sangat sadar akan hal itu. Dari menjadi luar biasa dan menjadi juara, lalu menjadi sangat rata-rata seperti di pertandingan itu, jaraknya benar-benar tipis. Jadi kalau kamu tidak menginginkannya lebih dari lawan, kamu tidak mampu menangani situasi tertentu secara emosional, kamu akan menderita. Kami semua menderita dan tidak menikmati pertandingan itu, tetapi kemudian kamu harus mengambil pelajarannya, dan kami sudah melakukannya.”
Persoalan bertambah karena Arsenal kehilangan ketenangan di lini belakang. Musim lalu mereka juara antara lain berkat pertahanan yang solid dan menjadi tim dengan kebobolan paling sedikit di liga. Kini, lima gol sudah bersarang ke gawang mereka hanya dalam enam pertandingan.
Duet Gabriel Magalhaes dan William Saliba diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Namun Saliba sedang cedera, dan Arsenal terlihat kehilangan ketenangan yang biasa ia hadirkan. Ezri Konsa, yang didatangkan dari Aston Villa dengan harga 55 juta poundsterling, memang berkualitas tetapi masih beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Kondisi Hincapie menambah kekhawatiran. Bek asal Ekuador itu terlihat memegang pergelangan kaki kanannya saat dibopong keluar lapangan oleh kiper Illan Meslier pada sesi pendinginan setelah laga. Ia sebelumnya masuk sebagai pengganti di akhir pertandingan melawan Leeds dan menjalani lari tambahan seusai peluit akhir, sebuah kebiasaan yang lazim dilakukan banyak klub. Belum jelas seberapa serius cederanya, tetapi ia sudah beberapa kali bermasalah dengan otot musim ini dan kini harus menunggu dengan cemas apakah harus kembali menepi.
Hincapie sendiri bergabung secara permanen pada musim panas ini, setelah sebelumnya dipinjam dari Bayer Leverkusen musim lalu. Di sisi lain, ada kabar baik dari Calafiori. Bek kiri asal Italia itu menjadi bagian penting dari ancaman serangan Arsenal, dan gol penyeimbangnya melawan Leeds adalah gol liga pertamanya musim ini. Tidak ada bek yang terlibat dalam lebih banyak gol Premier League darinya musim ini, dengan catatan satu gol dan dua assist.
Lini Serang Belum Menyatu dan Keputusan Besar Arteta
Arteta mengambil beberapa keputusan besar saat menyusun starting XI. Ia memilih memainkan Kai Havertz sebagai penyerang meski pemain Jerman itu pulang lebih awal dari tugas internasional karena masalah hamstring. Akibatnya, Viktor Gyokeres kembali harus duduk di bangku cadangan.
Gyokeres mencetak empat gol dan selalu tampil sebagai pencetak gol di setiap pertandingan untuk Swedia pada jeda internasional terakhir. Meski demikian, ia tampaknya masih punya pekerjaan rumah untuk meyakinkan sang manajer. Pemain berusia 28 tahun itu belum pernah menjadi starter di laga Premier League, dan dalam penampilan singkatnya musim ini ia terlihat jauh dari level yang dibutuhkan sebagai striker yang bisa membawa Arsenal meraih gelar berturut-turut.
Lini depan tidak menyatu melawan Leeds. Havertz terlihat kurang tajam karena minim menit bermain, sehingga muncul pertanyaan apakah kegagalan Arsenal mendatangkan penyerang kelas elite pada musim panas lalu akan menghantui mereka. Situasi bertambah rumit karena winger Christos Tzolis, yang sempat bersinar musim ini setelah datang pada musim panas, mengalami masalah hamstring saat membela Yunani. Dengan Eberechi Eze yang sedang tidak dalam performa terbaik, Arteta memilih memakai Noni Madueke di sayap kiri.
Madueke sebelumnya absen dari skuad terakhir Inggris karena kurang menit bermain bersama Arsenal. Menurut Arteta, pemain itu menjadi yang terbaik di latihan selama 10 hari terakhir. Kini kesempatan terbuka baginya untuk membuktikan nilai.
Tanda Juara atau Sinyal Bahaya?
Kemenangan kelima dalam enam laga liga menempatkan Arsenal sejajar poin dengan Manchester City di puncak klasemen. Namun peringatan tetap ada, karena performa yang jauh dari standar membuat hasil ini terasa rapuh. McCoist menilai kemampuan menang saat tidak bermain bagus sebagai ciri khas juara sejati, tetapi pola tertinggal lebih dulu yang berulang bisa menjadi masalah serius jika tidak segera diperbaiki.
Arteta sendiri menyadari betul soal garis tipis antara tampil sebagai juara dan tampil biasa. Karena itu, ia menuntut standar yang sama setiap pekan, bukan hanya di laga-laga besar. Jika tuntutan itu dipenuhi, ia yakin standar tim akan naik dan Arsenal akan menjadi lebih baik secara keseluruhan.
Ada pula pekerjaan rumah yang belum selesai di lini serang. Keputusan memilih Havertz ketimbang Gyokeres menunjukkan Arteta masih mencari kombinasi yang tepat, sementara Madueke mendapat kesempatan untuk membuktikan dirinya. Jika lini depan tak kunjung menemukan bentuk terbaiknya, Arsenal bisa terus bergantung pada momen-momen individu seperti yang diciptakan Guimaraes.
Arsenal vs Leeds 2-1 meninggalkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, tiga poin dan peny








