Elton John Kecewa Berat dengan Performa Buruk Watford

Mantan pemilik Watford, Elton John, melontarkan kritik pedas terhadap performa klub setelah The Hornets dihantam Burnley 4-0 di kandang sendiri. Legenda musik dunia berusia 79 tahun itu mengaku “sangat kesal dan kecewa” melihat penurunan yang dialami Watford dalam beberapa pekan terakhir. Ungkapan itu ia sampaikan lewat balasan pada unggahan klub di Instagram, yang belakangan dihapus.

Elton John

Kekecewaan Elton John untuk Watford bukan tanpa sebab. Kekalahan tersebut menempatkan klub asal Hertfordshire itu di peringkat ke-20 klasemen Championship, dengan catatan tiga kekalahan beruntun di liga dan lima kekalahan dari enam pertandingan terakhir. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang arah tim, terutama karena Burnley yang menghancurkan mereka justru tengah berada di posisi ke-22.

Kritik Elton John Usai Watford Dihantam Burnley

Dalam laga tersebut, Watford sudah tertinggal 3-0 hanya dalam 25 menit pertama. Mereka akhirnya menutup pertandingan dengan kekalahan 4-0, hasil yang terasa semakin menyakitkan karena datang di hadapan pendukung sendiri. Burnley sendiri datang dengan rekor yang jauh dari mengesankan, sehingga hasil ini mempertegas betapa rapuhnya performa Watford saat ini.

Menariknya, Burnley sebelum laga itu baru meraih satu kemenangan liga pada 2026, yakni ketika mengalahkan Crystal Palace di Premier League pada Februari. Mereka juga tercatat belum pernah menang di laga tandang selama hampir satu tahun. Fakta-fakta itu membuat kekalahan telak Watford terasa seperti pukulan yang jauh lebih berat dari sekadar kehilangan tiga poin.

Elton John pun mengungkapkan isi hatinya secara terbuka. “Sebagai pendukung seumur hidup Watford FC, saya sangat kesal dan kecewa dengan kemunduran yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir,” katanya. “Saya benar-benar merasakan apa yang dialami para pendukung yang harus menonton ini.”

Jejak Panjang Elton John di Watford

Elton John bukan sekadar nama besar yang menempel pada klub. Ia adalah penggemar Watford sejak kecil dan telah menjalani dua periode sebagai pemilik klub. Keterikatannya dengan Watford membuat kritik yang ia sampaikan memiliki bobot emosional tersendiri, sebab ia tumbuh bersama klub ini sebelum menjadi bintang musik global.

Pada periode kepemilikan pertamanya, ia mengawal kebangkitan Watford dari kasta keempat hingga finis di posisi kedua Divisi Satu dan tampil di kompetisi Eropa di bawah asuhan Graham Taylor pada era 1970-an dan 1980-an. Capaian itu menjadi salah satu masa paling gemilang dalam sejarah klub. Prestasi tersebut juga menjadikan Taylor figur sentral dalam fondasi kesuksesan Watford modern.

Ia kembali mengambil alih klub pada pertengahan 1990-an dan menunjuk ulang Taylor, yang kemudian membawa Watford ke Premier League pada 1999 melalui promosi beruntun. Elton John akhirnya melepaskan kendali atas klub masa kecilnya untuk kedua kalinya pada 2002. Pada 2024 ia merilis buku berjudul Watford Forever yang mengisahkan hubungannya dengan klub, dan namanya kini diabadikan pada salah satu tribun di Vicarage Road.

Awal Musim yang Menjanjikan di Bawah Alessio Dionisi

Watford menunjuk Alessio Dionisi sebagai manajer pada Juni dengan kontrak dua tahun. Pelatih asal Italia itu menjadi kepala pelatih ke-12 klub, di luar pelatih interim, sejak berakhirnya musim 2020-21. Tingginya pergantian pelatih dalam beberapa tahun terakhir menjadi gambaran betapa sulitnya mencari stabilitas di Vicarage Road.

Terlepas dari itu, Dionisi sempat melewati awal musim yang menantang dengan cukup baik. Watford mengalahkan Southampton di Vicarage Road, lalu bermain imbang saat tandang ke Wrexham dan menjamu West Ham di kandang. Hasil-hasil itu sempat memunculkan harapan bahwa klub bisa melangkah lebih tenang musim ini.

Namun setelah itu, Watford hanya meraih poin pada satu pertandingan saja, yakni kemenangan 2-1 atas Preston di kandang bulan lalu. Sejak laga tersebut, tren tim justru menurun tajam hingga berujung pada tiga kekalahan beruntun. Kekalahan dari Burnley menjadi puncak dari rangkaian hasil buruk itu.

Troy Deeney Ikut Menyoroti Masalah Klub

Kekhawatiran tidak hanya datang dari sosok Elton John. Mantan kapten Watford, Troy Deeney, juga menyuarakan kegelisahannya melalui unggahan di X. Deeney, yang mencetak 140 gol dalam 319 penampilan bersama klub, menyebut bahwa “tulisan sudah ada di dinding dan sudah terlihat selama berbulan-bulan”.

Dalam unggahannya, Deeney menyoroti sejumlah persoalan yang menurutnya menghambat klub, antara lain “menghilangkan talenta”, “membiarkan standar yang rendah”, dan “minimnya akuntabilitas”. Kritik itu menunjukkan bahwa masalah Watford tidak hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga menyangkut cara klub dikelola. Pada unggahan lanjutan, ia menegaskan bahwa dirinya “tidak pernah pahit, hanya kadang marah dengan apa yang saya lihat”.

Tekanan pada Manajemen dan Ambisi Scott Duxbury

Ketua klub, Scott Duxbury, sebelumnya berbicara dalam podcast resmi klub pekan ini dan mengakui adanya persoalan dalam skuad. “Kami punya banyak pemain yang menurut orang luar seharusnya tidak berada di sini. Mereka ada di sini karena percaya pada apa yang ingin kami capai, tetapi ini harus menjadi musim di mana kami benar-benar mewujudkannya,” ujarnya.

Duxbury juga menyatakan kelelahannya terhadap pola musim yang berulang. “Saya lelah dengan musim-musim di mana kami bilang di atas kertas tim kami hebat, lalu kami menghilang begitu saja. Tahun ini, tidak ada alasan, kami harus mencapai potensi kami dan menjalani musim yang sukses,” katanya menegaskan.

Pernyataan tersebut kini menghadapi ujian nyata di lapangan, karena hasil-hasil terbaru justru bergerak ke arah yang berlawanan. Tekanan pun semakin besar bagi Dionisi dan jajaran manajemen untuk segera membalikkan keadaan sebelum situasi semakin sulit.

Konteks Lebih Luas: Watford Pascadegradasi 2022

Sejak terdegradasi dari Premier League pada 2022, Watford belum pernah finis lebih tinggi dari peringkat ke-11. Catatan itu menggambarkan bahwa kesulitan klub bukanlah hal baru, melainkan persoalan yang berlarut-larut. Posisi ke-20 yang mereka tempati sekarang menambah kekhawatiran bahwa tren tersebut bisa berujung lebih buruk.

Dalam konteks Championship yang kompetitif, konsistensi menjadi faktor penentu untuk bisa bersaing di papan atas. Watford memiliki modal sejarah dan basis pendukung yang besar, tetapi hal itu tidak otomatis menjelma menjadi hasil di lapangan. Kombinasi antara ketidakstabilan kursi pelatih dan kritik dari figur-figur penting klub menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar.

Ke depan, sorotan akan tertuju pada bagaimana Dionisi dan para pemain merespons tekanan ini. Jadwal pertandingan berikutnya menjadi ujian sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa pernyataan Duxbury soal potensi tim bukan sekadar wacana. Jika tren negatif berlanjut, seruan untuk perubahan akan semakin sulit dibendung.

Kesimpulan

Kritik Elton John terhadap Watford menjadi sinyal kuat bahwa kekecewaan terhadap klub tidak hanya dirasakan oleh para pendukung, tetapi juga oleh figur yang pernah membesarkan nama klub. Kekalahan 4-0 dari Burnley, posisi ke-20 di klasemen, dan rentetan hasil buruk menjadi bukti nyata bahwa Watford tengah berada di titik yang mengkhawatirkan.

Dengan suara dari Elton John, Troy Deeney, hingga ketua klub Scott Duxbury, tekanan untuk berbenah kini datang dari berbagai arah. Yang dibutuhkan Watford saat ini bukan sekadar janji, melainkan hasil nyata di lapangan untuk mengembalikan kepercayaan semua pihak yang telah lama setia mendukung klub.