Eva Olid Minta Rekomendasi Jelajahi Kota Manchester

Manajer Manchester United, Eva Olid, mengaku tengah mencari rekomendasi tempat menarik di Manchester. Pelatih asal Spanyol itu berencana menjelajahi kota tersebut untuk pertama kalinya selama jeda kompetisi internasional, setelah dua bulan lebih hanya berkutat pada rutinitas kerja sejak tiba di Inggris.

Keinginan itu muncul di tengah momentum positif timnya. Olid baru saja mengantar Manchester United mengalahkan rival mereka, Liverpool, pada laga akhir pekan, dan kini skuadnya memasuki masa jeda sekitar dua pekan karena berlangsungnya play-off kualifikasi Piala Dunia. Momen renggang itu dinilainya sebagai kesempatan tepat untuk mengenal lebih dekat kota yang belum sempat ia telusuri.

Eva Olid

Kesibukan Eva Olid Sejak Tiba di Manchester United

Olid mengakui bahwa sejak menjejakkan kaki di Inggris, hampir seluruh waktunya habis untuk bekerja. Ia menggantikan Marc Skinner dua bulan lalu setelah memutuskan meninggalkan Hearts, dan sejak itu ritme hidupnya berputar hanya di antara rumah dan tempat kerja. Kepada BBC Sport, ia menyebut dirinya belum benar-benar sempat menjelajahi tempat tinggal barunya.

“Saya tidak berhenti sejak tiba!” ujarnya, menggambarkan rutinitas yang monoton. “Rumah, kerja, rumah, kerja. Orang tua saya ada di sini, keluarga saya ada di sini, dan sekarang saya ingin menjelajahi Manchester.”

Orang tua dan keluarganya kini memang berada di Inggris, sehingga keinginannya menjelajah kota bukan sekadar soal rekreasi pribadi. Ia secara terbuka meminta rekomendasi dari publik mengenai tempat-tempat yang layak dikunjungi. Permintaan itu sekaligus menunjukkan bahwa sang pelatih masih dalam proses beradaptasi dengan kehidupan barunya di Inggris.

Awal Berat di Women’s Super League dan Titik Balik

Meski datang dengan catatan sukses di Scottish Women’s Premier League, Olid tiba di Manchester United sebagai sosok yang belum banyak dikenal di sepak bola Inggris. Reputasi yang ia bangun di Skotlandia tidak otomatis membuat publik Liga Inggris yakin pada kemampuannya. Tekanan pun langsung datang sejak pekan-pekan awal.

Start-nya memang tidak mulus. Manchester United kalah dari London City Lionesses pada laga pembuka musim Women’s Super League, lalu dihajar Chelsea 5-0 di kandang sepekan berselang. Dalam dua laga itu, timnya hanya mampu melepaskan total dua tembakan ke arah gawang.

Namun, hasil imbang di markas Arsenal menjadi sinyal kebangkitan. Sejak itu, Manchester United meraih empat kemenangan beruntun di ajang WSL dan League Cup dengan total 18 gol. Catatan tersebut menjadi indikasi bahwa filosofi permainan yang diterapkan Olid mulai dipahami oleh para pemainnya.

Filosofi yang Mulai Berjalan dan Kritik dari Kubu Liverpool

Olid sendiri menilai perkembangan timnya belum sampai pada titik memuaskan. Ia mengaku senang untuk para pemain, tetapi menegaskan bahwa masih banyak aspek yang harus diperbaiki. Menurutnya, tim sudah mulai “klik” dalam banyak hal dan para pemain saling berjuang satu sama lain.

“Saya sangat bahagia untuk para pemain, mereka layak mendapatkannya,” kata Olid. “Kami sudah mulai klik dalam banyak hal dan mereka berjuang untuk satu sama lain.”

Meski begitu, ia tak ingin cepat berpuas diri. Ia menilai proses penyelesaian akhir dan umpan terakhir masih perlu ditingkatkan, meski ia yakin perbaikan itu akan datang seiring waktu. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa empat kemenangan beruntun belum dianggapnya sebagai hasil akhir, melainkan bagian dari proses pembangunan tim.

Dari sisi lawan, pandangan berbeda datang dari pelatih Liverpool, Gareth Taylor. Ia menilai Manchester United tampil terlalu langsung dan timnya terjebak dalam pola permainan yang disiapkan Olid, termasuk menyoroti cara kiper lawan yang disebutnya kerap menendang bola jauh dari tangan. Taylor juga mengakui bahwa dua kekalahan dalam tiga laga terakhir membuat start baik timnya terhenti, dan ia menuntut para pemainnya tampil lebih berani.

Makna Jeda Internasional bagi Manchester United

Jeda dua pekan ini menjadi periode yang penting bagi Olid di dua sisi sekaligus. Dari sisi teknis, ia punya waktu untuk memperbaiki aspek penyelesaian akhir dan umpan terakhir yang ia sebut belum optimal. Dari sisi pribadi, ia bisa memanfaatkan waktu untuk mengenal lingkungan barunya, sesuatu yang belum sempat dilakukan sejak awal kedatangannya.

Perlu dicatat bahwa Manchester United memainkan sebagian besar laga kandang mereka di Leigh Sports Village, sekitar 12 mil di sebelah barat pusat kota Manchester. Sementara itu, sesi latihan digelar di Carrington, Trafford, lokasi yang sama dengan tim putra. Kondisi ini membuat keseharian Olid lebih banyak terpusat pada area kerja ketimbang pusat kota.

Momentum empat kemenangan beruntun juga menjadi modal berharga saat kompetisi bergulir kembali. Sebagai pelatih yang masih tergolong baru di sepak bola Inggris, Olid perlu menjaga konsistensi hasil untuk memperkuat posisinya. Sekaligus, ia harus memastikan bahwa adaptasi di luar lapangan tidak mengganggu fokus tim di dalam kompetisi.

Penutup

Eva Olid datang ke Manchester United dengan membawa rekam jejak dari Skotlandia, melewati awal yang berat di Women’s Super League, lalu perlahan menemukan bentuk permainan terbaik timnya lewat empat kemenangan beruntun dan 18 gol. Di sela itu, ia masih menyimpan satu urusan yang belum tuntas: menjelajahi kota Manchester dan meminta rekomendasi dari publik.

Jeda internasional pun menjadi titik sela yang pas, baik untuk merapikan detail permainan maupun untuk berhenti sejenak dari rutinitas “rumah, kerja, rumah, kerja”. Bagaimana Manchester United melanjutkan tren positifnya setelah jeda akan menjadi ujian berikutnya bagi Olid.