Disney+ memastikan jeda iklan selama sekitar tiga menit yang memotong siaran laga Liga Champions Wanita antara Arsenal dan HB Koge bukan bagian dari jadwal resmi. Iklan itu muncul ketika pertandingan masih berlangsung dan kedudukan masih imbang 0-0 pada babak kedua, Selasa lalu. Pihak Disney menyebut kejadian tersebut sebagai gangguan yang tidak disengaja akibat persoalan teknis, bukan keputusan editorial yang direncanakan.

Insiden itu hanya satu dari sekian banyak masalah yang mewarnai siaran malam tersebut. Penonton mengeluhkan sejumlah gangguan teknis sekaligus menilai konsep acara terlalu banyak menonjolkan gimmick dan dianggap meremehkan sepak bola wanita. Peristiwa ini pun menjadi sorotan karena terjadi di musim kedua Disney+ memegang hak siar kompetisi elite antarklub Eropa tersebut, dengan produksi pertandingan yang dikerjakan oleh ESPN.
Jeda Iklan Tiga Menit di Tengah Laga Arsenal vs HB Koge
Saat jeda iklan itu muncul, Arsenal dan HB Koge masih saling mengunci tanpa gol. Penonton yang menyaksikan laga secara langsung tiba-tiba kehilangan gambar pertandingan dan dialihkan ke blok iklan yang berjalan cukup lama. Disney menegaskan bahwa gangguan tersebut berasal dari kendala teknis dan mereka memahami rasa frustrasi yang dialami para penonton.
Menurut pernyataan pihak Disney, langkah-langkah sedang disiapkan agar kejadian serupa tidak terulang. Namun, penjelasan itu tidak menyebutkan secara rinci apa penyebab teknis yang dimaksud maupun kapan perbaikan akan selesai diterapkan. Yang jelas, insiden tersebut terjadi pada momen yang sangat tidak menguntungkan, yakni ketika pertandingan masih berjalan dan belum ada gol tercipta.
Di sisi lain, hasil pertandingan sendiri tetap tuntas. Arsenal memenangi laga itu dengan skor 1-0 berkat penalti Mariona Caldentey pada masa tambahan waktu. Kemenangan tersebut menjadi awal yang positif bagi Arsenal di laga pertama mereka pada kompetisi musim ini, meski cara siaran pertandingannya justru meninggalkan kesan buruk di kalangan penonton.
Deretan Masalah Teknis dan Konsep The Hangout
Program siaran malam itu dipandu oleh Alex Scott sebagai pembawa acara pertama musim ini. Ia didampingi mantan penyerang timnas Inggris Lianne Sanderson, dua kreator konten Alex Bailess dan Tyra Mills, serta seekor anjing bernama Barley Boy. Kehadiran Barley Boy tidak disertai penjelasan lain selain jumlah pengikutnya di Instagram yang disebut mencapai 137.000.
Disney+ juga memperkenalkan format baru bernama “The Hangout”, yang mereka gambarkan sebagai acara studio langsung dengan konsep pengalaman hari pertandingan bagi para penggemar. Format ini disebut menyajikan pemanasan sebelum laga, analisis saat jeda, dan reaksi setelah pertandingan. Dalam rilis medianya sebelum putaran pertama, Disney menyatakan The Hangout akan memadukan analisis para ahli dengan sudut pandang segar serta keterlibatan penggemar.
Kenyataannya, penyiaran itu dihantam rangkaian masalah teknis yang cukup mengganggu. Ada pemain yang sudah bersiap diwawancarai tetapi tidak bisa mendengar pertanyaan dari studio, ada pula lantai berputar yang bergerak tidak terkendali. Kamera juga sempat menangkap bantalan kursi yang menghalangi pandangan ke arah Scott, ditambah lagi persoalan sinkronisasi audio.
Masalah suara ternyata tidak hanya terjadi di satu lokasi. Reporter asal Italia, Roberto Perrone, yang meliput laga Inter Milan melawan tim Swedia Hacken di Milan, juga mengalami kendala audio serupa. Ketika suara akhirnya kembali, penonton justru disuguhi kuis bertema non-sepak bola, dengan pertanyaan mulai dari jenis pasta hingga kota terbesar di Italia.
Kritik Penggemar dan Jurnalis atas Kualitas Siaran
Sejumlah penggemar meluapkan kekecewaannya di media sosial. Salah satunya menyoroti bahwa di sepak bola pria, tontonan analisis dan hiburan bisa berdiri sendiri-sendiri dalam acara yang berbeda. Karena sepak bola wanita hanya mendapat satu program, acara itu dinilai dipaksa memenuhi semua kebutuhan sekaligus dan akhirnya kehilangan fokus.
Penggemar lain menekankan bahwa sepak bola wanita ingin diperlakukan secara serius, dan tayangan seperti itu justru melemahkan upaya tersebut. Menurutnya, kepribadian dan hiburan tetap punya tempat, tetapi tidak boleh mengorbankan pertandingannya sendiri. Ia menambahkan bahwa pertandingan tidak butuh gimmick untuk menarik minat, dan sudah seharusnya pemain, kompetisi, serta jalannya laga mendapat perhatian, analisis, dan rasa hormat yang setara dengan cabang olahraga lain.
Kritik serupa datang dari kalangan jurnalis. Megan Feringa dari The Athletic mengibaratkan menonton siaran Disney seperti keluar-masuk dari mimpi yang jernih, sambil mempertanyakan alasan kehadiran anjing, lantai yang berputar, dan iklan yang memotong analisis. Sementara Flo Lloyd-Hughes, penyiar sekaligus penulis untuk The Cutback, mempertanyakan mengapa liputan sepak bola wanita selalu harus serba penuh gimmick, padahal ini Liga Champions, bukan acara televisi anak-anak seperti Blue Peter.
Flo menyarankan agar televisi menempatkan para analis yang benar-benar memahami tim yang bertanding di studio, memastikan perangkat teknis berjalan baik, dan memberi cukup waktu untuk pemanasan serta analisis agar konteks pertandingan tersampaikan. Sarannya itu merangkum keluhan utama penonton malam itu: persoalannya bukan sekadar hiburan, melainkan hilangnya keseimbangan antara tontonan dan substansi sepak bola.
Konteks Lebih Luas: Perdebatan Cara Menyiarkan Sepak Bola Wanita
Ketegangan antara pendekatan hiburan dan keseriusan liputan bukan hal baru dalam industri penyiaran sepak bola wanita. Pada November tahun lalu, muncul kekhawatiran soal profesionalisme dan kredibilitas pengundian perempat final serta semifinal Piala Liga Wanita. Pengundian itu dilakukan oleh influencer media sosial GK Barry dan memicu perdebatan soal siapa yang seharusnya dipercaya menangani acara resmi kompetisi.
Pada bulan yang sama, Sky Sports menghentikan kanal TikTok barunya yang menyasar penonton perempuan, Halo, setelah mendapat reaksi negatif di dunia maya. Unggahan kanal tersebut dinilai merendahkan dan seksis oleh banyak pengguna. Dua contoh itu menunjukkan pola yang mirip dengan kasus Disney+: upaya menarik audiens baru kerap berbenturan dengan ekspektasi penggemar yang ingin kompetisi diperlakukan secara profesional.
Persoalannya menjadi lebih rumit karena hak siar bukan sekadar soal menayangkan pertandingan. Penyiaran juga membentuk cara publik memandang sebuah kompetisi, termasuk seberapa serius liga tersebut di mata sponsor, calon penonton baru, dan media. Ketika masalah teknis menumpuk dan segmen hiburan terasa lebih dominan daripada analisis, pesan yang sampai ke penonton bisa jadi justru berlawanan dengan niat awal penyelenggara siaran.
Apa yang Terjadi Berikutnya
Siaran Liga Champions Wanita di Disney+ berlanjut pada hari Rabu dengan laga Chelsea menjamu Austria Wien pada pukul 20.00 waktu Inggris. Pertandingan itu menjadi ujian berikutnya bagi Disney+ sekaligus kesempatan untuk membuktikan bahwa perbaikan teknis benar-benar dilakukan. Sejauh mana perubahan terlihat di layar akan menentukan apakah kritik publik malam itu hanya menjadi riak kecil atau berlanjut menjadi tekanan yang lebih besar.
Bagi penonton, yang paling dinanti sebenarnya sederhana: gambar yang tidak terputus oleh iklan tak terjadwal, suara yang sinkron, dan porsi analisis yang cukup untuk memahami jalannya pertandingan. Jika hal-hal mendasar itu terpenuhi, perdebatan soal konsep dan gaya penyiaran bisa dibahas secara lebih tenang. Sebaliknya, jika gangguan serupa kembali muncul, sorotan terhadap kualitas produksi akan semakin sulit dibendung.
Kasus jeda iklan tak terjadwal dalam laga Arsenal kontra HB Koge memperlihatkan bahwa masalah penyiaran bisa berkembang jauh melampaui gangguan teknis semata. Disney+ telah mengakui insiden itu tidak disengaja dan berjanji melakukan perbaikan, sementara penggemar serta jurnalis menuntut agar sepak bola wanita disajikan dengan standar yang setara dengan kompetisi lain. Perhatian kini tertuju pada laga-laga berikutnya, karena di situlah janji perbaikan itu akan diuji.