Peringatan: Artikel ini membahas bunuh diri dan sejumlah informasi yang mungkin memberatkan sebagian pembaca.
Dua perempuan yang dipersatukan oleh duka, Debbie Beard dan Amanda Thorpe, bertemu untuk pertama kalinya dalam sebuah acara yang mendorong pencegahan bunuh diri di dunia olahraga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kompetisi di semua level. Acara tersebut digelar oleh Pangeran Wales bersama Royal Foundation. Di hadapan editor bisnis BBC, Simon Jack, keduanya membuka cerita tentang kehilangan suami mereka — sebuah percakapan yang mereka harap bisa mengubah cara industri olahraga menangani kesehatan mental.

Pertemuan itu bukan sekadar reuni dua perempuan yang berduka. Keduanya adalah janda dari tokoh olahraga yang dikenal publik: Matt Beard, mantan manajer tim wanita Liverpool, dan Graham Thorpe, mantan pemain kriket Inggris serta Surrey. Duka mereka menyimpan pertanyaan besar yang selama ini jarang dibicarakan terbuka di ruang ganti, kantor klub, maupun ruang rapat federasi. Dengan membagikan pengalaman mereka, Debbie dan Amanda berharap tidak ada keluarga lain yang harus melewati hal serupa.
Siapa Debbie Beard dan Amanda Thorpe?
Debbie Beard kehilangan suaminya lebih dari setahun sebelum acara itu berlangsung. Matt Beard meninggal di rumah sakit pada 20 September 2025 dan diduga mengakhiri hidupnya sendiri, meski proses inquest atau pemeriksaan resmi penyebab kematian belum menghasilkan kesimpulan. Sang suami meninggal sekitar sebulan setelah berhenti dari posisinya sebagai manajer Burnley Women, jabatan yang hanya ia pegang selama dua bulan.
Ketika jadwal inquest atas kematian Matt ditunda tanpa batas waktu, pihak Burnley menyatakan bahwa mereka “menyadari adanya proses hukum yang masih berjalan” dan memilih untuk “tidak memberikan komentar apa pun saat ini”. Pernyataan itu menegaskan bahwa kasus ini masih menyisakan banyak tanda tanya, baik bagi keluarga maupun bagi publik yang mengikuti karier Matt di sepak bola wanita.
Amanda Thorpe menghadapi kehilangan serupa pada 2024, ketika suaminya Graham Thorpe mengakhiri hidupnya sendiri. Graham adalah mantan pemain kriket Inggris dan Surrey yang dikenal sebagai sosok kompetitif di lapangan. Menurut Amanda, suaminya “terjun ke dalam depresi” setelah kehilangan pekerjaannya sebagai pelatih batting pada 2022 — sebuah pukulan yang, menurutnya, datang tanpa peringatan.
Jalan panjang Graham Thorpe menuju titik terendah
Amanda menuturkan bahwa suaminya sudah bergulat dengan masalah kesehatan mental selama satu hingga satu setengah tahun sebelumnya, terutama pada masa pandemi Covid-19. Graham, kata dia, tidak menyukai aturan, sementara masa pandemi menerapkan banyak ketentuan ketat, termasuk bermain dalam kondisi gelembung atau bubble. Selama periode itu ia menjalani pengobatan dan terapi yang difasilitasi oleh pekerjaannya.
Persoalan memburuk ketika Graham kehilangan pekerjaannya. Menurut Amanda, suaminya sangat membanggakan kariernya yang dihabiskan sepanjang hidup di dunia kriket, dan ia sama sekali tidak menduga akan terkena pemutusan kerja. Amanda menyebut setidaknya dua orang lain juga diberhentikan pada waktu yang sama, hal yang memang kerap terjadi setelah rangkaian seri Ashes yang buruk.
Amanda juga menyoroti kebiasaan minum suaminya yang meningkat dan tekanan besar selama perjalanan terakhir di masa pandemi. Di akhir tur, Graham membuat video bernuansa bercanda saat timnya minum-minum bersama lawan. Video itu dikirim seorang pemain kepada dua temannya, lalu bocor hingga muncul di Sydney Morning Herald. “Boleh saja kalau menang, tapi kamu tidak boleh minum kalau kalah,” ujar Amanda menggambarkan situasi yang menimpa suaminya.
Menurut Amanda, reaksi Graham terhadap insiden tersebut jauh berlebihan dibandingkan kenyataannya. Ia merasa malu dan terhina, lalu masuk ke lorong pemikiran bahwa ia telah merusak segalanya. “Ia mengalami penurunan yang cepat dan tajam,” kata Amanda. Ia mengaku baru mengetahui setelah suaminya melakukan percobaan serius yang melukainya cukup parah, bahwa Graham pernah menyebut soal bunuh diri dalam sesi terapi — informasi yang saat itu tidak diketahuinya karena kerahasiaan. “Kalau saya tahu, keadaan mungkin berbeda,” ujarnya.
Sinyal yang terlewat dari Matt Beard
Dari sisi Debbie, tanda-tanda yang muncul juga baru terlihat jelas setelah semuanya terjadi. Ia menyebut ada perubahan perilaku pada Matt jika dilihat ke belakang. Prestasi tim yang tidak bagus membuat Matt menerima banyak hujatan di media sosial, sementara ia tidak pernah bisa menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar saat diwawancarai media. Keluh kesahnya hanya ia lampiaskan di rumah.
Debbie belakangan mengetahui bahwa Matt cukup sering berbicara kepada saudaranya tentang kondisi kesehatan mentalnya. Namun ketika Debbie bertanya, Matt selalu menjawab bahwa ia baik-baik saja. “Ia selalu ingin yang terbaik untuk orang lain,” kata Debbie. Ia menilai suaminya tidak ingin membuat dirinya dan keluarganya khawatir dengan pikiran-pikiran yang sedang ia hadapi.
Pemecatan dari pekerjaan datang tiba-tiba dan memicu banyak spekulasi. Setelah itu, menurut Debbie, Matt mulai minum lebih banyak dari biasanya. Dari sisi perilaku, ia juga menilai suaminya mengambil banyak risiko. “Mungkin itu awal dari semuanya,” ujar Debbie menggambarkan periode tersebut.
Dampak dan implikasi bagi ekosistem olahraga
Amanda secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa suaminya masih hidup seandainya ia menerima dukungan lebih besar dari England and Wales Cricket Board (ECB) setelah meninggalkan peran kepelatihannya. Menanggapi inquest atas kematian Graham, ECB menyebut peristiwa itu sebagai “tragedi yang mendalam” dan menilai kepergian Thorpe sebagai “pengingat keras” atas tantangan kesehatan mental yang dihadapi banyak orang.
Kasus Graham dan Matt memperlihatkan bahwa olahraga bukan hanya soal performa di lapangan. Pelatih dan staf pendukung bekerja dalam hubungan yang sangat dekat dengan atlet, bahkan di level akar rumput, sehingga mereka berada di posisi yang bisa melihat perubahan pada orang lain. Namun, menurut Debbie, perhatian terhadap kesejahteraan seseorang masih terlalu berat pada sisi fisik dan belum menyentuh sisi mental secara serius.
Beban emosional juga bekerja dua arah. Debbie mengenang bagaimana Matt selalu merasa bersalah setiap kali harus menyampaikan kabar buruk kepada pemain. “Ia pulang dan berkata, ‘hari ini saya harus berbicara keras dengan orang ini, saya harus melepas mereka dan ada yang menangis.’ Ia merasa bersalah,” tutur Debbie. Rasa bersalah karena menjadi orang yang menyampaikan keputusan pahit itu, menurutnya, terus membebani suaminya.
Toolkit On Your Side dan peran Royal Foundation
Pertemuan Debbie dan Amanda terjadi dalam acara yang digagas Pangeran Wales bersama Royal Foundation. Acara itu memperkenalkan sebuah perangkat sumber daya daring bernama On Your Side. Tujuannya jelas: menjadikan pencegahan bunuh diri sebagai bagian dari budaya olahraga, sejajar dengan pemanasan, latihan rutin, dan persiapan performa atlet.
Pendekatan semacam ini penting karena olahraga memiliki jangkauan yang sangat luas, mulai dari klub kecil di tingkat komunitas hingga tim profesional dengan sorotan media besar. Ketika kesadaran dan prosedur baku soal kesehatan mental diterapkan secara konsisten, peluang untuk mengenali tanda bahaya lebih dini akan meningkat. Sebaliknya, tanpa sistem yang jelas, orang-orang di sekitar atlet maupun pelatih sering kali hanya bisa menebak-nebak.
Simon Jack sendiri memandu percakapan itu dengan pengalaman personal: ia berusia 17 tahun ketika ayahnya mengakhiri hidupnya sendiri. Kehadiran sosok yang pernah mengalami kehilangan serupa membuat kedua perempuan itu lebih terbuka menceritakan detail yang menyakitkan, termasuk soal rasa marah, rasa bersalah, dan pertanyaan “bagaimana jika” yang tak pernah selesai.
Percakapan sulit yang harus dimulai
Debbie mengakui bahwa berbicara soal kesehatan mental dengan orang terdekat bukan perkara mudah. Namun, menurutnya, siapa pun yang berinteraksi setiap hari dengan seseorang akan menyadari perubahan pada orang tersebut. Debbie menilai Matt sangat peka terhadap para pemainnya dan biasa mengajak mereka bicara berdua, jauh dari keramaian, sebelum memberi saran.
Ia menekankan pentingnya kualitas hubungan dengan terapis. Menurut Debbie, membuka diri kepada seorang terapis berarti membuka kotak yang berisi hal-hal paling pribadi. “Kamu ingin mengeluarkan semuanya, tetapi kamu perlu memercayai terapis itu,” ujarnya. Karena itu, memastikan adanya koneksi yang nyaman menjadi sama pentingnya dengan ketersediaan layanan itu sendiri.
Amanda melengkapi dengan pengalaman pahitnya sendiri. Ia mengaku marah pada dirinya sendiri, diliputi rasa bersalah, dan terus dihantui berbagai kemungkinan yang seharusnya bisa dilakukan. Graham, menurutnya, merasa sangat terisolasi dan sempat menutup diri dari banyak teman karena rasa malu. “Ia berkata, ‘saya sudah kehilangan semua teman saya.’ Padahal tidak,” kata Amanda. Ia juga menyebut bahwa setelah kedua putrinya kuliah, rumah terasa sepi karena hanya ia dan anjing tuanya yang tersisa.
Di sisi lain, Debbie mengingatkan bahwa duka selalu punya dimensi praktis yang jarang dibicarakan. Selain kehilangan pasangan secara emosional, keluarga juga kehilangan sumber penghasilan kedua. Sewa, tagihan, dan kebutuhan rumah tangga tetap harus dibayar dengan jumlah yang sama, sementara ia harus terus memastikan anak-anak baik-baik saja dan tetap menjalani rutinitas sekolah.
Kedua perempuan itu menutup percakapan dengan tekad yang sama. Debbie menyebut mereka kini menjadi bagian dari “klub yang tidak pernah kami inginkan”, tetapi dari situ mereka ingin membuat orang mendengarkan. Mereka berencana bertemu lagi dan saling mengunjungi satu sama lain. “Kami ingin membuat perubahan dan membantu orang lain, kami tidak ingin ada siapa pun berada di posisi ini,” kata Debbie. Amanda menambahkan, mereka ingin menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Informasi mengenai dukungan dan bantuan bagi siapa pun yang mengalami tekanan atau keputusasaan tersedia melalui BBC Action Line.