Alexander Isak: Tantangan Andoni Iraola di Liverpool

Alexander Isak tiba di Liverpool dengan status pemain termahal dalam sejarah Premier League setelah ditebus sebesar £125 juta dari Newcastle United pada musim panas lalu. Namun, musim perdananya di Anfield jauh dari kata memuaskan. Penyerang asal Swedia itu hanya mencetak tiga gol dalam 14 penampilan di liga, dan kini semua mata tertuju pada Andoni Iraola untuk menemukan cara terbaik memaksimalkan potensinya.

Musim ini, Liverpool baru meraih dua hasil imbang 2-2 pada dua laga perdana Iraola sebagai manajer. Isak memang mencetak gol saat melawan Nottingham Forest, tetapi performanya secara keseluruhan masih jauh dari standar yang diharapkan. Sementara itu, kesepakatan senilai £123 juta untuk Bradley Barcola akan segera diresmikan, menjadikannya pemain kesepuluh dalam sejarah Premier League yang diboyong dengan harga di atas £100 juta.

Fakta di Balik Perjuangan Alexander Isak di Liverpool

Sebelum pindah ke Anfield, Alexander Isak mencetak 44 gol Premier League dalam dua musim terakhirnya bersama Newcastle United. Namun, pada musim pertama yang diganggu cedera, pemain berusia 26 tahun itu hanya mampu membobol gawang lawan tiga kali dari 14 penampilan. Cedera memang menjadi faktor utama, tetapi keyakinan internal klub bahwa ia adalah investasi jangka panjang tidak pernah pudar.

Kabar baiknya, Isak tampil tajam pada pramusim setelah menunjukkan performa impresif bersama Swedia di Piala Dunia. Meski begitu, ia kembali kesulitan saat Liverpool bertandang ke Tyneside akhir pekan lalu. Melawan Nottingham Forest pada Sabtu, di babak pertama ia hanya mencatat enam sentuhan, satu umpan akurat, dan tidak melepaskan satu pun tembakan.

Kepercayaan yang Belum Terbangun

Mantan kiper timnas Inggris Joe Hart menilai Liverpool belum menemukan cara bermain yang tepat dengan Alexander Isak. Menurutnya, di Newcastle semua alur serangan berpusat pada Isak berkat kepercayaan yang sudah dibangun lama antara pemain dan lini tengah. Para gelandang Magpies tahu persis posisi Isak tanpa perlu menengadah, sesuatu yang belum terlihat di Liverpool.

Hart menambahkan bahwa kepercayaan semacam itu kini belum ada di skuad asuhan Iraola. Akibatnya, Isak kerap terlihat kehilangan arah dan terisolasi di lini depan. Padahal, menurut Hart, kualitas Isak tidak perlu diragukan lagi, dan Liverpool hanya sedang berada di persimpangan jalan dalam menemukan cara terbaik memanfaatkannya.

Keputusan Besar Andoni Iraola

Laga kandang pertama Iraola di Premier League ternyata disaksikan langsung oleh calon wakil ketua Liverpool Amit Bhatia, pemilik utama John Henry, dan direktur olahraga Richard Hughes. Hughes sendiri merupakan sosok kunci di balik kesepakatan Alexander Isak pada musim panas lalu. Ketiganya tentu berharap investasi besar itu segera membuahkan hasil.

Untungnya, Isak akhirnya mampu menyamakan kedudukan pada babak kedua setelah memanfaatkan umpan Cody Gakpo dengan timing lari yang sempurna. Gol tersebut menjadi gol pertamanya musim ini, dan mantan kapten Liverpool Steven Gerrard menyebutnya sebagai momen besar bagi kepercayaan diri sang striker maupun tim secara keseluruhan. Isak sendiri mengaku sangat bahagia bisa mencetak gol pertama dan berharap gol-gol berikutnya akan terus berdatangan.

Meski begitu, Joe Hart menilai Iraola masih menghadapi dilema besar. Apakah ia akan membangun tim di sekitar Isak atau mencari solusi lain dari skuad yang ada? Menurut Hart, tidak ada gunanya merekrut pemain mahal jika tidak dimanfaatkan dengan cara yang tepat dan sesuai keunggulannya.

Masalah Penguasaan Bola

Dua laga perdana Liverpool musim ini sama-sama berakhir imbang 2-2, meskipun pasukan Iraola mendominasi penguasaan bola. Melawan Newcastle mereka mencatat 60 persen penguasaan bola, sementara melawan Forest angkanya naik menjadi 70 persen. Namun, dalam kedua laga tersebut Liverpool justru tertinggal lebih dulu dan belum pernah unggul sepanjang musim ini.

Situasi ini jelas mempersulit peran Alexander Isak yang selama ini tampil mematikan dalam skema serangan balik di Newcastle. Ketika menghadapi pertahanan rapat, tantangannya jauh berbeda. Masalah ini juga mencerminkan pola yang pernah dialami Iraola di Bournemouth.

Musim lalu, Bournemouth hanya memenangkan empat dari 19 laga Premier League saat menguasai mayoritas bola. Sebaliknya, mereka menang sembilan kali dalam 19 pertandingan ketika penguasaan bola justru lebih sedikit. Bahkan, tim pantai selatan itu tidak pernah menang dalam laga dengan penguasaan bola di atas 58,8 persen.

Beban di Pundak Alexander Isak

Sejak musim pertamanya di Inggris, hanya Erling Haaland, Mohamed Salah, dan Ollie Watkins yang mencetak lebih banyak gol Premier League daripada Alexander Isak. Dengan Salah yang kini tidak lagi menjadi bagian dari skuad, beban mencetak gol semakin bertumpu pada Isak. Apalagi, Hugo Ekitike masih berkutat dengan cedera, sehingga pilihan lini depan Liverpool semakin terbatas.

Joe Hart meyakini aliran permainan Liverpool sebagai kekuatan penyerang belum berjalan lancar. Menurutnya, dengan ketatnya fisik Premier League dan skema yang belum sepenuhnya jelas, lawan bisa dengan mudah menekan Liverpool. Ia menilai butuh banyak pekerjaan dari Iraola dan stafnya di lapangan latihan, meski ia percaya sang manajer adalah pelatih top dengan materi pemain yang mumpuni.

Saat ditanya soal target musim ini, Isak menjawab bahwa ia tidak punya target khusus dan lebih memilih fokus pada setiap pertandingan. Ia sadar bahwa mencetak gol di setiap laga adalah hal yang sulit. Namun, di dalam hatinya, Isak pasti tahu bahwa ia bisa dan harus tampil lebih baik.

Perjalanan Alexander Isak di Liverpool memang masih panjang, dan performanya melawan Forest menunjukkan sedikit peningkatan dibanding laga sebelumnya. Namun, tantangan terbesar justru ada di tangan Andoni Iraola: bagaimana membangun kepercayaan dan skema yang mampu mengeluarkan versi terbaik dari striker termahal dalam sejarah Premier League ini. Jika berhasil, Liverpool akan kembali mendapatkan mesin gol yang pernah mencetak 44 gol dalam dua musim bersama Newcastle.

Exit mobile version