Aston Villa akhirnya meraih kemenangan kandang pertama mereka musim ini, dan cara mereka melakukannya nyaris tanpa cela. Fenerbahce dihancurkan 6-0 di ajang Liga Champions, sekaligus menjadi kemenangan terbesar Aston Villa di kompetisi Eropa sepanjang sejarah klub. Tiga gol lahir di babak pertama, dan total enam gol membuat laga di Villa Park berubah menjadi pesta yang sudah lama tidak dirasakan para pendukungnya.

Hasil itu penting bukan hanya karena angkanya besar. Sebelum pertandingan ini, Villa belum pernah menang di kandang sepanjang musim, sementara stadion mereka tengah berada dalam proses pembangunan ulang. Pertanyaan soal ketajaman dan konsistensi sudah mulai muncul, sehingga kemenangan ini menjadi jawaban yang paling meyakinkan.
Jalannya Laga: Tiga Gol Babak Pertama yang Menentukan
Di atas kertas, Fenerbahce bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Skuad tamu dari Turki itu bertabur mantan pemain Premier League seperti Ederson, Nathan Ake, Romelu Lukaku, dan Nelson Semedo, sehingga lima tahun lalu mereka akan menjadi ancaman yang serius. Kenyataannya berbeda jauh, karena Fenerbahce runtuh dengan cepat di babak pertama meski kiper Zion Suzuki sempat membuat dua penyelamatan penting.
Johan Manzambi dan dua gol Nicolas Jackson membuat Villa memegang kendali penuh atas pertandingan. Menariknya, gol-gol tersebut tercipta di depan kerangka struktur North Stand yang sedang dibangun, sebuah area yang sebelumnya tidak bersahabat bagi Villa karena mereka hanya mencetak satu gol setiap kali menyerang ke arah gawang itu musim ini.
Penderitaan tim tamu bertambah lewat dua gol Ross Barkley dan penyelesaian mudah Tammy Abraham di menit-menit akhir. Enam gol dalam satu laga kandang terakhir kali terjadi saat Villa mengalahkan Brighton 6-1 tiga tahun lalu, dan sebelumnya mereka juga pernah mencetak lima gol ke gawang Hibernian di Europa Conference League pada 2023.
Unai Emery menilai Fenerbahce tidak sepantasnya menelan kekalahan sebesar itu, tetapi ia menekankan betapa pentingnya cara timnya meraih kemenangan kandang pertama. “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan kami butuh waktu, kami berkembang secara bertahap dan ini langkah maju yang bagus,” ujarnya seusai laga. Ia juga menegaskan bahwa tiga poin di Liga Champions sangat berarti karena Villa ingin menjadi protagonis di kompetisi tersebut, dengan objektif berikutnya yang sudah jelas, yaitu laga melawan Newcastle.
Latar Belakang: Renovasi Stadion dan Awal Musim yang Berat
Sebelum pertandingan ini, Emery menyebut timnya ikut terdampak pembangunan ulang North Stand setelah tiga laga kandang tanpa kemenangan. Data memperkuat pernyataan itu, karena Villa hanya mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan kandang pertama mereka di Premier League musim ini. Situasi tersebut sempat menghadirkan tekanan, meski hasil imbang 2-2 melawan Brentford pada akhir pekan sebelumnya menyelamatkan mereka dari kekalahan kandang ketiga beruntun di liga di bawah Emery untuk pertama kalinya sejak Februari 2024.
Persoalan utama sebenarnya bukan sekadar stadion. Sebelum jeda internasional, Emery menggambarkan lima pekan awal musim ini seperti masih menjalani masa pramusim, karena ada sepuluh pemain baru yang harus beradaptasi setelah bursa transfer musim panas yang berjalan kacau. Dengan kata lain, apa yang dilihat di lapangan adalah proses yang belum selesai, bukan produk akhir.
Kemenangan atas Fenerbahce memperlihatkan bahwa proses itu mulai membuahkan hasil. Villa kini mencatatkan hanya satu kekalahan dalam tujuh pertandingan terakhir mereka, dan hasil di Liga Champions tersebut sekaligus memperpanjang momentum yang perlahan terbangun.
Nicolas Jackson dan Wajah Baru Lini Depan Villa
Rekor Transfer dan Reuni dengan Emery
Jackson datang sebagai rekrutan termahal dalam sejarah Villa dengan nilai £65 juta, mengambil posisi yang ditinggalkan Ollie Watkins setelah kepindahannya ke Al-Hilal senilai £50 juta. Pemain berusia 25 tahun itu tiba setelah membantu Bayern Munich menjuarai Bundesliga musim lalu selama masa peminjaman dari Chelsea. Di Villa Park, ia bersatu kembali dengan Emery, sosok yang dulu memberinya debut saat keduanya berada di Villarreal.
Kedekatan itu punya jejak yang jelas. Gol terakhir Emery untuk Villarreal sebelum ia hengkang ke Villa pada Oktober 2022 dicetak oleh Jackson, sebuah gol kemenangan di menit akhir melawan Almeria. Kepercayaan tersebut terbayar cepat ketika mereka bekerja sama lagi, dan penampilan melawan Fenerbahce menjadi buktinya.
Statistik, Penalti, dan Ambisi Hat-trick
Dua gol ke gawang Fenerbahce membuat Jackson kini mengoleksi empat gol dalam tiga pertandingan terakhir dan lima gol sepanjang musim. Satu-satunya hal yang kurang lengkap malam itu adalah hat-trick, karena eksekusi penalti yang sebenarnya ia inginkan sudah ditetapkan menjadi tugas Ross Barkley. “Saya ingin menendangnya, tetapi yang terpenting adalah kami menang. Semoga lain kali saya bisa mendapatkan hat-trick,” kata Jackson kepada TNT Sports.
Emery sendiri tidak ragu memuji kontribusi penyerangnya. Menurutnya, Jackson tidak hanya mencetak gol tetapi juga bekerja untuk tim dalam bertahan, dan tidak menutup kemungkinan penyerang itu juga akan dipercaya mengeksekusi penalti pada masa mendatang. Catatan itu penting bagi Villa yang tengah berusaha mengalihkan fokus publik dari kepergian Watkins, pencetak gol terbanyak mereka di Premier League.
Implikasi: Modal Berharga Menuju Fase Gugur
Tiga poin dari laga ini menempatkan Villa pada posisi yang sudah cukup nyaman untuk melaju ke fase gugur Liga Champions. Selain itu, kemenangan besar di kandang sendiri memberikan efek psikologis yang tidak kecil bagi skuad yang sedang mencari identitas baru. Bagi Emery, hasil seperti ini memperkuat legitimasi proyek jangka panjang yang ia bangun.
Mantan kapten Villa, Stiliyan Petrov, menilai apa yang terlihat di lapangan adalah wujud dari potensi yang selama ini dibicarakan pelatihnya. “Ada banyak pertanyaan sejak awal musim, bahkan untuk pertandingan ini juga, orang bertanya seberapa jauh mereka bisa melangkah di kompetisi ini. Tetapi tampaknya mereka mulai menyatu dan ada alur dalam permainan mereka,” ujarnya kepada TNT. Menurut Petrov, para pemain yang direkrut Emery mulai tampil sangat baik, dan kemenangan itu sepenuhnya pantas didapatkan.
Indikasi kemajuan juga terlihat dari pemain lain. Manzambi melewati tekel-tekel Fenerbahce dengan mudah, Ibrahim Mbaye menemukan ruang untuk dieksploitasi meski masih perlu berkembang, sementara Leon Goretzka menjalani debut sebagai pemain pengganti di akhir laga. Di bawah mistar, Suzuki tetap tampil dominan dan terus beradaptasi dengan perannya secara mulus.
Konteks Lebih Luas: Ujian Berikutnya di Newcastle
Perhatian Villa sekarang beralih ke laga tandang ke Newcastle pada hari Sabtu, sebuah pertemuan yang menarik karena tim tuan rumah kebobolan empat gol dari Coventry pada Senin lalu. Catatan itu membuat Newcastle menyandang rekor pertahanan terburuk bersama di Premier League saat ini. Emery pun secara terbuka menyebut laga tersebut sebagai objektif berikutnya, mengingat poin Villa di liga masih belum memadai.
Jackson berharap bisa terus berkembang bersama rekan-rekan barunya di lini serang. Ia menyebut Manzambi sebagai pemain top dan mengaku senang bisa bermain bersamanya, dengan harapan keduanya mencetak lebih banyak gol di masa depan. Mbaye juga mendapat pujian khusus karena kecepatannya, terlebih keduanya saat ini sama-sama memperkuat tim nasional Senegal.
Bagi Villa, kemenangan 6-0 atas Fenerbahce bukan sekadar catatan statistik, melainkan tanda bahwa perpaduan pemain lama, rekrutan baru, dan ide Emery mulai menemukan bentuknya. Tantangan sesungguhnya justru menanti: menjaga konsistensi tersebut saat kembali bertarung di Premier League, tempat poin jauh lebih sulit didapat. Jika momentum ini bisa diterjemahkan ke laga-laga liga, harapan Villa untuk bersaing di dua kompetisi sekaligus bukan lagi sekadar wacana.