Darren England akhirnya mencatatkan tonggak baru dalam kariernya sebagai pengadil lapangan. Wasit asal South Yorkshire itu untuk pertama kalinya ditunjuk sebagai video assistant referee (VAR) di Liga Champions pada laga Galatasaray melawan Stuttgart, sebuah pengakuan yang datang tiga tahun setelah kesalahan besar yang hampir meruntuhkan kariernya.
Penunjukan tersebut bukan satu-satunya kabar baik bagi pria berusia 40 tahun itu. Sepanjang tahun ini, Darren England berulang kali dipercaya memimpin partai-partai besar sepak bola Inggris, termasuk final Piala FA yang mempertemukan Manchester City dan Chelsea dengan skor akhir 1-0. Publik yang dulu menghujaninya dengan kritik kini melihatnya sebagai salah satu pengadil paling andal di Premier League, baik saat bertugas di lapangan maupun di ruang VAR.

Kesalahan Luis Diaz yang Hampir Menghentikan Karier
Titik terendah dalam perjalanan Darren England terjadi tiga tahun lalu ketika ia bertugas sebagai VAR dalam laga antara Tottenham dan Liverpool. Winger Liverpool, Luis Diaz, mencetak gol, tetapi wasit di lapangan menganulirnya karena offside. Rekaman VAR sebenarnya menunjukkan Diaz berada dalam posisi sah, namun England terlanjur mengucapkan “check complete” sehingga keputusan gol tidak dianulir itu tetap dipertahankan.
Kekeliruan itu membuat sang pengadil langsung berada di pusat sorotan media, dan tekanan yang sama ikut menimpa keluarganya. Liverpool merilis pernyataan resmi yang menilai integritas olahraga telah “dirusak” oleh insiden tersebut. Bagi England, momen itu bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan awal dari masa-masa berat yang harus ia lalui di depan mata publik.
Dalam wawancara dengan BBC Sport, England menggambarkan tugas sebagai wasit sebagai perjalanan emosi yang naik-turun. Ia menyebut insiden tersebut sebagai titik terendah, bahkan yang paling rendah sepanjang kariernya. Pengakuan itu menunjukkan bahwa di balik seragam pengadil, ada manusia yang turut merasakan beban dari setiap keputusan.
Beban Kerja di Ruang VAR dan Tekanan pada Keluarga
England mengisahkan bahwa ruang VAR adalah lingkungan kerja yang steril dan penuh tekanan. Tidak ada komentar pertandingan yang mengalir, hanya percakapan tim pengadil melalui headset yang terus terdengar. Menurutnya, setelah menangani laga yang sibuk, ia bisa keluar dari ruangan dalam kondisi mental yang benar-benar lelah.
Situasi itu diperparah ketika kesalahan terjadi. England mengaku tidak bisa berdiri lalu berjalan keluar begitu saja, sehingga ia harus bertahan selama kurang lebih satu jam sisa pertandingan dengan kesadaran bahwa dirinya baru saja salah. Ia menilai ketahanan mental dan pengalaman menjadi kunci untuk bisa melewati situasi seperti itu.
Dampaknya tidak berhenti di lapangan. England bercerita bahwa fotografer sempat berkumpul di depan sekolah anak-anaknya demi mendapatkan fotonya, sementara foto-foto keluarganya diambil dari akun Facebook sang istri dan satu artikel menyoroti nilai rumahnya. Ia menegaskan bahwa tekanan tersebut memengaruhi dirinya bukan hanya sebagai wasit, tetapi juga sebagai manusia.
- England langsung dicoret dari daftar penugasan Premier League setelah insiden tersebut.
- Butuh hampir tiga bulan sebelum ia kembali memimpin laga Liga Primer.
- Ia baru kembali bertugas sebagai VAR di Premier League setelah sekitar enam setengah bulan.
- Asosiasi Sepak Bola Inggris membantunya kembali perlahan melalui beberapa laga Piala FA, dengan Michael Oliver sebagai support VAR.
Rehabilitasi dan Peran Psikolog Olahraga
Masa pemulihan England berjalan bertahap dan sangat terstruktur. Ia banyak bekerja bersama psikolog olahraga untuk membangun kembali kepercayaan diri setelah kesalahan yang menjadi sorotan nasional. Dukungan dari keluarga dan sahabat ia sebut sebagai faktor paling penting, di samping bantuan dari lembaga pengadil profesional.
England juga belajar menjaga perspektif. Ia menyadari ada bahaya ketika seorang wasit merasa sedang “menyelamatkan nyawa” hanya karena menangani pertandingan sepak bola, tetapi di saat yang sama ia tetap mengakui betapa pentingnya pekerjaan itu bagi banyak orang. Dengan cara pandang seperti itu, ia berusaha tetap fokus dan percaya pada kemampuannya sendiri.
Keyakinan itu bukan tanpa dasar. England menegaskan bahwa terlepas dari satu keputusan kontroversial di laga Tottenham melawan Liverpool, ada ratusan keputusan lain yang ia ambil dengan benar. Cara berpikir inilah yang membantunya bangkit, bukan sekadar menunggu badai kritik mereda.
Perjalanan Darren England dari National League ke Final Piala FA
Kebangkitan England terlihat jelas dari penugasan-penugasan yang ia terima. Pada Mei, ia menjadi VAR untuk keputusan yang disebut-sebut sebagai salah satu intervensi terbesar dalam sejarah teknologi tersebut, ketika gol penyama kedudukan West Ham di masa injury time melawan Arsenal dianulir setelah ditinjau ulang. England mengaku sangat memahami besarnya implikasi keputusan itu, tetapi tetap berusaha tenang di bawah tekanan.
Enam hari setelahnya, ia memimpin final Piala FA di Wembley, sebuah laga yang ia sebut sebagai puncak karier seorang wasit. Ia menyebut final Piala FA sebagai salah satu target yang ingin dicapai setiap wasit profesional, dan karena hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup, momen itu terasa sebagai kehormatan besar.
Perjalanan menuju titik ini tidak pernah mulus. England lolos kualifikasi sebagai wasit pada usia 15 tahun dan sempat bekerja di akademi Barnsley, melatih pada pekan kerja dan hari Minggu sambil memimpin pertandingan setiap Sabtu. Pada akhirnya ia harus memilih satu jalur profesional, dan wasitlah yang menang.
Ia pertama kali masuk Premier League sebagai asisten wasit. Pada 2015, di usia 28 tahun, England memutuskan memulai lagi dari National League sebagai wasit utama dan meniti karier dari bawah. Dalam waktu sekitar empat setengah tahun, ia akhirnya memimpin laga Premier League pertamanya, tepatnya pada Januari 2020 di laga Southampton melawan Wolves.
Diakui Rekan Kerja hingga Jalur UEFA
Rasa hormat dari rekan seprofesi terlihat langsung dalam sebuah kamp pelatihan wasit di Loughborough University. Hugh Dallas, direktur Professional Referee Group, sempat menghentikan sesi diskusi untuk memanggil England ke depan dan menyebutnya telah “menjadi teladan”. England saat itu baru saja memimpin laga ke-100 di kasta tertinggi dan menerima plakat serta medali dari Premier League disambut tepuk tangan hangat.
UEFA memantau perkembangan England dengan saksama dan menaikkannya melalui berbagai level sebagai VAR. Setelah sepuluh penugasan di Conference League dan enam di Europa League, ia kini melangkah ke Liga Champions. Ia menegaskan bahwa timnya bekerja sangat keras untuk bertahan di level tersebut, terutama karena kualitas pemain Premier League terus meningkat sehingga pengadil pun dituntut ikut berkembang.
England juga menyoroti besarnya sorotan yang kini melekat pada wasit akibat kehadiran VAR. Ia mengaku kerap ditanya soal keputusan akhir pekan oleh sesama orang tua saat mengantar anak ke sekolah, termasuk keputusan pertandingan yang bukan ia pimpin. Karena itu, ia memilih tidak memiliki akun media sosial, meski tetap menghormati pilihan orang lain yang berbeda.
Soal target, England tidak ingin berhenti. Ia menyebut saat dirinya tidak lagi punya sasaran, itulah tanda waktunya turun dari lapangan. Final Carabao Cup dan final play-off Championship masih masuk dalam incarannya, sama seperti final Piala FA yang sudah ia rasakan.
Penutup
Kisah Darren England menunjukkan bahwa karier seorang wasit tidak hanya ditentukan oleh satu keputusan, betapapun besar dampaknya. Dari masa pencoretan setelah insiden Luis Diaz, ia kembali lewat proses panjang yang melibatkan bantuan psikolog, dukungan keluarga, dan kepercayaan dari lembaga pengadil. Kini ia berdiri di final Piala FA dan ruang VAR Liga Champions, dua panggung yang tiga tahun lalu terasa mustahil dijangkau.
Yang tersisa dari perjalanan ini adalah pelajaran tentang cara bangkit: mengakui kesalahan, menerima konsekuensinya, lalu membuktikan kemampuan lewat kerja yang konsisten. England telah mendapatkan hak untuk kembali menetapkan target-target besarnya, dan penunjukan-penunjukan terbaru menjadi bukti bahwa kepercayaan itu memang layak ia terima.