Women’s Super League: Man City dan London City Mendominasi

Setelah lima pekan yang berjalan cepat dan penuh kejutan, Women’s Super League memasuki jeda dua pekan. Momen ini menjadi waktu yang tepat untuk menengok kembali bagaimana musim baru bergulir, dan sejauh ini dua nama menonjol paling terang: Manchester City yang belum tersentuh kekalahan, serta London City Lionesses yang tampil jauh lebih matang dari perkiraan banyak orang.

Musim ini istimewa karena WSL untuk pertama kalinya diikuti 14 klub, naik dari sebelumnya 12 tim, dengan tiga tim promosi dari kasta kedua. Penambahan peserta itu otomatis memperlebar peta persaingan, baik di papan atas yang dihuni para pengoleksi gelar, maupun di dasar klasemen tempat klub-klub baru berjuang keras agar tidak jadi bulan-bulanan. Berikut lima catatan penting dari pembukaan musim yang baru berjalan lima pertandingan ini.

Man City dan London City Mendominasi

Manchester City Masih Jadi Tim yang Harus Dikalahkan

Lima pertandingan, lima kemenangan, dan 16 gol tercipta. Manchester City sebagai juara bertahan benar-benar melanjutkan pekerjaan mereka dari musim lalu tanpa kehilangan momentum sedikit pun. Kemenangan dramatis atas Arsenal pada akhir pekan lalu bahkan mencatatkan start terbaik City sejak musim 2017-18, ketika mereka membuka kompetisi dengan tujuh kemenangan beruntun. Status mereka sebagai tim yang paling ditakuti di liga pun semakin sulit dibantah.

Konsistensi itu tidak lepas dari performa para pemain kunci. Perpanjangan kontrak Khadija Shaw pada musim panas lalu terbukti jadi keputusan penting, dan sang penyerang sudah mengoleksi lima gol di liga. Pemain sayap timnas Inggris, Lauren Hemp, juga berada dalam kondisi terbaik dengan kontribusi empat gol dan dua assist. Ditambah perekrutan senyap tapi cerdas seperti Beth Mead, Carlotta Wamser, dan Niamh Charles, skuad City terlihat siap menghadapi jadwal padat musim ini.

Konsekuensinya terasa bagi Arsenal. Jarak mereka dari puncak klasemen sudah melebar menjadi 10 poin, dan harapan besar yang dibangun pada pramusim untuk meraih gelar liga pertama sejak 2018-19 perlahan memudar. Manajer Arsenal, Renee Slegers, mengakui kenyataan itu selepas pertandingan dengan kalimat yang cukup pahit: “Saat ini, kami tidak berada dalam pembicaraan itu.”

London City Lionesses Tampil Menakutkan

Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, tatanan mapan penghuni papan atas WSL benar-benar terancam. London City Lionesses dan Tottenham sama-sama memasang target tinggi untuk naik ke papan atas, sementara Liverpool juga berambisi melangkah lebih jauh musim ini. Namun dari kelima pertandingan yang sudah berjalan, London City adalah yang paling meyakinkan.

Bukti terbarunya adalah kemenangan 6-1 atas Tottenham di kandang lawan pada akhir pekan lalu, sebuah penampilan yang memperlihatkan betapa besar kualitas sekaligus kedalaman skuad yang dimiliki manajer Eder Maestre. Dua kali peraih Ballon d’Or, Alexia Putellas, menjadi wajah dari sejumlah rekrutan musim panas yang mencuri perhatian, dan ia mencetak dua gol dalam laga tersebut. Namun yang benar-benar memukau adalah cara seluruh tim membongkar lawan yang sebelumnya tampil impresif, dengan Kadidiatou Diani dan Danielle van de Donk juga terlihat satu tingkat di atas pemain lain.

“Kemenangan seperti ini bisa menjadi titik balik,” ujar Maestre usai pertandingan. Pernyataan itu sulit dibantah, karena penampilan semacam ini biasanya memicu pembicaraan tentang peluang merebut gelar. Bagi Tottenham, kekalahan telak di kandang sendiri menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa hasil-hasil bagus di awal musim belum cukup untuk bersaing di level teratas.

Liverpool sendiri tampil cukup baik meski kalah tipis saat bertandang ke markas dua klub Manchester. Hanya saja, ketika pemain-pemain kunci di lini serang seperti Vivien Endemann absen melawan United, kreativitas mereka terlihat tumpul. Inilah yang sepertinya menjadi pembeda terbesar antara Liverpool dan Tottenham dengan London City: kedalaman skuad.

Chelsea dan Arsenal: Dua Kutub di Papan Atas Women’s Super League

Pesaing terdekat Manchester City saat ini adalah Chelsea. Setelah hanya bermain imbang melawan Aston Villa di laga pembuka, The Blues merespons dengan empat kemenangan beruntun tanpa sekalipun kebobolan. Catatan pertahanan itu menjadi keunggulan yang tidak dimiliki City, meski manajer Sonia Bompastor masih menginginkan anak asuhnya tampil lebih tajam dalam menyelesaikan peluang.

Sebaliknya, Arsenal justru sedang menapaki jalan yang berlawanan. Kekalahan dari City tidak hanya berdampak pada angka di klasemen, tetapi juga pada kepercayaan diri tim yang sempat digadang-gadang sebagai penantang serius musim ini. Dengan selisih 10 poin dari puncak, Arsenal dituntut segera menemukan solusi sebelum jeda kompetisi berakhir, sebab kehilangan poin lebih banyak akan membuat misi mengejar gelar nyaris mustahil.

Manchester United Mulai Menemukan Pola Permainan Eva Olid

Musim panas yang penuh perubahan membuat awal musim Manchester United berjalan tidak mulus. Kedatangan Eva Olid dari Hearts dibuka dengan dua kekalahan meyakinkan, masing-masing dari London City dan Chelsea. Pihak klub sendiri menyatakan bahwa musim ini adalah masa transisi, tetapi penampilan terkini menunjukkan para pemain mulai memahami gaya bermain yang diinginkan sang pelatih.

Kemenangan 1-0 atas Liverpool pada akhir pekan lalu menjadi kemenangan keempat beruntun United di semua kompetisi, dengan total 18 gol tercipta dalam rentetan itu. “Saya sangat senang untuk para pemain, mereka layak mendapatkannya,” kata Olid. “Kami mulai menemukan klik dalam banyak hal dan mereka saling berjuang satu sama lain. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki. Kami menciptakan peluang, tetapi umpan terakhir dan penyelesaian kami perlu lebih baik.”

Salah satu perkembangan positif datang dari pemain rekrutan musim panas, Andrea Medina, yang tampil mengesankan di sayap kiri. Kontribusinya bagi tim jauh lebih besar daripada yang terlihat dari catatan satu golnya. Setelah jeda, United akan bertandang ke markas Charlton yang ada di dasar klasemen, sebuah peluang untuk menambah poin sebelum menghadapi ujian berat melawan Manchester City pada pekan berikutnya.

Ekspansi Women’s Super League dan Nasib Klub Promosi

Musim ini adalah musim terbesar dalam sejarah WSL secara harfiah, dengan jumlah peserta bertambah dari 12 menjadi 14 tim dan tiga klub naik dari kasta kedua. Pertanyaannya kemudian: apakah lebih besar otomatis berarti lebih kuat? Dari ketiga tim promosi, Crystal Palace tampak paling nyaman beradaptasi dengan mengumpulkan enam poin dari lima laga, dan hasil imbang di markas Aston Villa pada akhir pekan lalu mengangkat mereka ke peringkat kedelapan.

Situasinya jauh lebih sulit bagi Birmingham dan Charlton yang menghuni dasar klasemen. Meski sempat menunjukkan permainan menjanjikan, Birmingham sebagai juara kasta kedua baru mengumpulkan dua poin, dan salah satunya didapat ketika menghadapi Crystal Palace. Satu kabar baik datang dari penyerang timnas Prancis, Oceane Hurtre, yang terlihat cocok dengan level kompetisi ini dan kini menjadi top skor bersama WSL dengan lima gol dari lima pertandingan.

Hurtre mencetak gol saat Birmingham kalah dari Everton pada akhir pekan lalu, tetapi bek Neve Herron menggambarkan kondisi tim dengan cukup blak-blakan bahwa Birmingham kalah dalam “segalanya” di laga itu. Sementara itu, situasi Charlton terlihat suram: nol poin, 15 gol kebobolan, dan hanya dua gol tercipta. Setelah kekalahan 5-1 dari Brighton, kiper sekaligus kapten Sophie Whitehouse menyebut penampilan timnya “tidak cukup baik” dan menegaskan bahwa lonjakan level kompetisi sangat besar sehingga kesalahan sekecil apa pun akan berbuah fatal.

Tren Penonton Women’s Super League yang Perlu Dicermati

Terlalu dini untuk menarik kesimpulan, tetapi jumlah penonton di beberapa laga besar liga ini tercatat lebih rendah dibanding musim-musim sebelumnya. Chelsea yang menjamu Arsenal pada 27 September misalnya, bermain di Stamford Bridge dengan atmosfer yang bergelora, namun jumlah penontonnya menyusut 36% dibanding pertemuan pada Januari tahun ini. Hal serupa terjadi pada laga Liverpool melawan Everton di Anfield yang turun 19% dari musim lalu, meski laga derbi Merseyside itu merupakan pertandingan pertama musim 2025-26.

Tiga pekan lalu, Arsenal menjamu Manchester United dengan kick-off pukul 17.30 di hadapan 29.853 penonton. Padahal pada musim sebelumnya, laga yang digelar pada waktu makan siang itu dihadiri 37.627 orang. Sebagai penyeimbang, perlu dicatat bahwa laga Manchester City melawan Arsenal pada akhir pekan lalu dipindahkan dari Joie Stadium ke Etihad Stadium, dan jumlah penontonnya jelas lebih banyak daripada 4.300 orang yang hadir pada pertemuan musim lalu. Meski demikian, angka resminya belum dirilis.

Dengan sampel yang masih terbatas, jumlah penonton yang membayar tiket tetap menjadi tren yang layak dipantau. Persoalan ini menjadi relevan karena WSL masih terus bergulat dengan tantangan penjadwalan, terutama dalam menempatkan laga-laga besar pada waktu dan venue yang mampu menarik penonton sebanyak mungkin.

Kesimpulan

Lima pekan pertama musim ini memberi gambaran yang cukup jelas: Manchester City masih menjadi patokan yang harus dikejar, sementara London City Lionesses berhasil membuktikan bahwa ambisi mereka bukan sekadar wacana pramusim. Di sisi lain, Chelsea menjaga langkah dengan pertahanan solid, Arsenal mulai tertinggal jauh, dan Manchester United perlahan menemukan bentuk permainan yang diinginkan pelatih barunya.

Ekspansi liga juga membawa konsekuensi yang tidak merata bagi para klub promosi, dari Crystal Palace yang mulai nyaman hingga Charlton yang masih mencari titik terang. Menjelang bergulirnya kembali kompetisi setelah jeda, pertanyaan besarnya sederhana: apakah City mampu menjaga laju tanpa cela, atau justru London City yang siap mengubah peta persaingan gelar musim ini?