Miroslav Klose menjadi salah satu pengecualian paling menarik di tengah tren kepelatihan Jerman yang dinilai menyimpang dari resep sukses yang berlaku di sepak bola Eropa. Sementara banyak pelatih di Bundesliga sibuk mengubah sistem, formasi, dan menempatkan pemain di posisi yang bukan keahliannya, Klose justru memilih jalan sebaliknya: sederhana, konsisten, dan berorientasi pada stabilitas.
Pandangan ini disampaikan Philipp Lahm dalam kolomnya yang ditulis bersama Oliver Fritsch untuk majalah daring Jerman, Die Zeit. Lahm bukan sekadar pengamat biasa. Ia pernah berbagi lapangan dengan Klose dalam lebih dari 80 pertandingan bersama tim nasional Jerman, sehingga penilaiannya soal karakter dan cara kerja Klose punya dasar yang kuat.
Cetak Biru Kesuksesan: Kontinuitas Plus Seleksi
Lahm membuka analisisnya dari klub yang saat ini menjadi juara Liga Champions, Paris Saint-Germain. Menurutnya, PSG berpeluang mencetak sejarah dengan meraih gelar ketiga secara beruntun pada musim ini. Sejak turnamen ini berganti nama pada 1992, hanya Real Madrid yang pernah melakukannya, yakni pada rentang 2016 hingga 2018.
Ada kemiripan pola yang jelas antara kedua klub tersebut. Madrid memakai sembilan pemain yang selalu menjadi starter di ketiga laga final mereka. PSG pun memenangi dua final dengan susunan pemain yang nyaris identik. Satu-satunya perubahan terjadi saat mereka mempertahankan gelar di Budapest, ketika Gianluigi Donnarumma tak lagi berdiri di bawah mistar setelah Luis Enrique berpisah jalan dengan kiper juara Eropa itu.
Tren serupa sudah terlihat jauh sebelumnya. Ajax (1971-1973) dan Bayern Munich (1974-1976), dua raksasa era Piala Eropa, masing-masing menurunkan tujuh pemain yang selalu menjadi starter di tiga final beruntun. Jika saja tidak dihantam cedera, jumlahnya bisa lebih besar. Pola yang sama muncul pada lima kemenangan beruntun Madrid sejak 1956, dengan sembilan pemain tampil di minimal tiga final dan tiga pemain turun di kelima final. Kontinuitas ditambah seleksi ketat: itulah resep abadi yang tak berubah.
Angka di Balik Manajemen Menit Bermain
Pelatih-pelatih papan atas hari ini tampaknya sudah menghayati prinsip tersebut, dan datanya membuktikan itu. Pola yang sangat mirip terlihat di PSG, Arsenal, dan Barcelona. Di masing-masing klub, ada inti berisi enam sampai delapan pemain yang membentuk identitas tim sekaligus menjadi jangkar saat laga-laga krusial.
Lapisan berikutnya diisi tiga hingga lima starter reguler yang terus didorong oleh empat sampai enam pemain skuad. Artinya, tulang punggung sebuah tim berjumlah sekitar 16 pemain, sedangkan sisanya berfungsi sebagai pelapis. Total menit bermain sekitar 5.000 menit per musim pun dibagi dengan pola yang cukup jelas:
- pemain inti: sekitar 70 sampai 85 persen menit bermain
- starter reguler lainnya: 50 sampai 60 persen
- pemain skuad: 40 sampai 45 persen
- pemain pinggiran: berbagi sisa maksimal 20 persen
Studi perbandingan juga menunjukkan tidak ada alternatif selain sistem operasi standar, yaitu bertahan yang berorientasi pada bola. Para pelatih elit juga disiplin mempertahankan formasi mereka, umumnya 4-3-3 atau 4-2-3-1. Pergantian pemain dilakukan setara, posisi demi posisi, demi menjaga keutuhan struktur tim.
Satu tren lain yang menggembirakan adalah ketiga klub menyisihkan sebagian tempat di skuad pinggiran untuk sedikitnya tiga talenta muda, sering kali lulusan akademi mereka sendiri. Agar potensi mereka teruji di level tertinggi, mereka diberi menit bermain secara konsisten. Di Arsenal, Myles Lewis-Skelly yang berusia 20 tahun tampaknya mulai mengokohkan posisinya sebagai pemain tetap.
Prinsip-prinsip ini dijalankan selama bertahun-tahun dan di semua level pembinaan oleh juara Prancis, Inggris, dan Spanyol. Pendekatan serupa juga terlihat di klub-klub kecil dan, dengan pola mirip, pada tim nasional seperti Maroko. Ini adalah cetak biru universal untuk sukses di lapangan, yang banyak dipengaruhi filsafat kepelatihan Spanyol dengan Pep Guardiola, Mikel Arteta, dan Luis Enrique sebagai motor penggeraknya.
Jerman dan Tiga Penyimpangan yang Terlihat
Penyimpangan paling mencolok dari cetak biru itu justru ditemukan di Jerman. Lahm menyebut tiga bukti yang menunjukkan adanya jalur khas Jerman. Pertama, penandaan orang per orang alias man-marking mengalami kebangkitan yang terasa aneh di tengah sepak bola modern. Kedua, banyak klub Bundesliga memberi lebih sedikit kesempatan kepada pemain binaan sendiri, meski secara paradoks tetap memelihara akademi yang mahal. Ketiga, begitu banyak pelatih yang tidak punya latar belakang sebagai pesepak bola profesional.
Para pelatih ini kerap mengubah sistem dan formasi, baik sebelum maupun selama pertandingan berlangsung. Tidak jarang mereka menurunkan pemain di posisi yang bukan tempatnya. Contoh paling menonjol adalah Julian Nagelsmann, yang menurut Lahm justru menghambat perkembangan timnya sendiri saat menangani tim nasional karena terus-menerus melakukan perubahan mendasar.
Miroslav Klose, Pengecualian di Sepak Bola Jerman
Namun selalu ada pengecualian, dan salah satunya adalah Miroslav Klose. Lahm mengenangnya sebagai rekan setim yang hebat, pemain yang benar-benar memahami nilai dirinya bagi kolektif. Klose adalah juara Piala Dunia dan pernah menjadi pemegang rekor gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen itu sejak 2014 hingga musim panas lalu. Wajar bila seseorang dengan latar belakang seperti itu punya pemahaman mendalam soal hierarki, disiplin, dan kesadaran taktis tentang apa yang membuat sebuah kolektif berjalan.
Miro, sapaan akrabnya, kini menjalani musim ketiga di Nürnberg dan tengah berada di zona promosi 2. Bundesliga. Menurut Lahm, ia membawa DNA seorang manajer hebat. Yang membedakannya dari banyak pelatih lain adalah ia tidak membuat segalanya menjadi rumit. Ia tidak mengotak-atik sistem inti atau formasinya, mengenali siapa yang memenuhi tuntutan klub dan siapa yang tidak, serta jarang mengubah susunan sebelas pertama.
Lewat efek pengulangan itulah Klose menemukan inti tim yang memberi kestabilan. Winger Mohamed Zoma, yang baru bulan lalu debut untuk tim nasional Italia, dan gelandang serang Julian Justvan mendapat sekitar 90 persen menit bermain. Gelandang tengah Finn Ole Becker mengumpulkan sekitar 80 persen sebelum mengalami cedera. Sementara gelandang bertahan Adam Markhiev, pemain internasional Finlandia, praktis selalu bermain setiap kali fit. Klose harus merombak lini pertahanannya setelah transfer musim panas, tetapi tampaknya cepat menemukan komposisi empat bek pilihannya.
Ia juga memberi ruang bagi pemain muda. Lulusan akademi seperti Tim Janisch dan Eric Porstner tetap dipercaya meski sempat melakukan kesalahan. Sejak pergantian tahun, striker muda Piet Scobel tampil hampir setiap pekan. Pemahaman Klose atas identitas klub juga terlihat dari keputusannya menunjuk Jan Reichert, kiper asli Franconia, sebagai kapten.
Nürnberg dan Potensi Besar yang Belum Tergarap
Posisi pelatih di Nürnberg akhirnya terisi dengan cara yang memungkinkan sesuatu yang besar untuk tumbuh. Berkat Klose, klub yang sejak 2014 tertahan di kasta kedua, kecuali satu musim saja, kembali memanfaatkan potensi lokasinya. FCN punya sejarah besar: hanya Bayern Munich yang mengoleksi gelar liga Jerman lebih banyak. Legenda klub Max Morlock bahkan mencetak gol pertama Jerman di final Piala Dunia 1954.
Klub ini juga menyimpan potensi luar biasa. Wilayah tangkapan penggemarnya sangat luas dengan nyaris tanpa pesaing lokal. Kawasan metropolitan besar di sekitar Nuremberg, kota berpenduduk 550.000 jiwa, ekonominya kuat, dan klub memiliki stadion berkapasitas 50.000 penonton yang akan dimodernisasi.
Yang paling penting, klub ini berakar kuat di komunitasnya, ditopang basis penggemar yang besar dan sangat loyal. Mereka tetap klub tradisional yang dimiliki para anggotanya. Bagi warga di sana, “Der Club” benar-benar berarti segalanya.
Kesimpulan
Kisah Miroslav Klose di Nürnberg menunjukkan bahwa resep kesuksesan sepak bola modern sebenarnya tidak rumit: bangun inti tim yang stabil, jaga sistem, dan beri kepercayaan pada pemain muda. Yang dilakukan Klose sejalan dengan pola yang dijalankan PSG, Real Madrid, Arsenal, atau Barcelona, serta jauh dari kebiasaan berubah-ubah yang menurut Lahm justru menjadi kelemahan sepak bola Jerman saat ini.
Bagi Nürnberg, kehadiran Klose bukan hanya soal hasil di papan klasemen. Ada harapan bahwa klub bersejarah dengan basis penggemar besar itu kembali menemukan identitasnya dan memanfaatkan potensi yang selama ini belum tergarap sepenuhnya.
