Kepala wasit UEFA, Roberto Rosetti, melontarkan kritik tajam terhadap penggunaan VAR (Video Assistant Referee) dalam sepak bola modern. Ia menilai sejumlah peninjauan yang dilakukan melalui layar monitor “tidak terhubung dengan sepak bola”. Pernyataan ini disampaikan Rosetti saat memperkenalkan Clear Line, portal edukasi VAR pertama yang ditujukan untuk para penggemar.
Kritik tersebut bukan tanpa dasar. Rosetti baru saja menggelar pertemuan dengan pimpinan wasit dari lima liga teratas Eropa—Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, dan Italia—bersama direktur teknis Ifab, David Elleray. Pertemuan itu berupaya mencari pendekatan yang lebih seragam dalam pengambilan keputusan, menyusul meningkatnya ketidakpuasan terhadap cara kerja VAR di berbagai kompetisi.
Clear Line: Portal Edukasi VAR untuk Penggemar Sepak Bola
Clear Line adalah portal pertama yang dirancang khusus untuk membantu penggemar memahami kapan VAR seharusnya turun tangan dan kapan tidak. Rosetti menjelaskan bahwa portal ini memuat dokumentasi lengkap tentang setiap area yang dicakup VAR, mulai dari penalti, kartu merah, pelanggaran saat menyerang, keputusan faktual, hingga salah identitas pemain. Rosetti menggambarkan Clear Line sebagai “panduan untuk semua orang sepak bola”, bukan untuk ofisial.
Uefa juga mengunggah banyak contoh video situasi handball di Clear Line untuk menjelaskan apa yang dianggap sebagai pelanggaran. Rosetti menyebut portal ini sebagai “perpustakaan, struktur, dan dokumen” yang menjelaskan kapan serta bagaimana VAR akan campur tangan. Menurutnya, Clear Line bukanlah halaman web untuk wasit, melainkan ruang bagi klub, pemain, dan penggemar untuk mengecek apakah sebuah insiden sejalan dengan standar yang berlaku.
“Kami mulai berpikir bagaimana kami bisa membantu semua orang memahami VAR dengan lebih baik,” kata Rosetti. “Ini bukan halaman web untuk wasit. Ini adalah ruang yang kami ingin Anda kunjungi setelah pertandingan Liga Champions untuk mengecek bagaimana sebuah insiden dibandingkan dengan perpustakaan ini.” Ia menambahkan bahwa portal ini dibuat untuk klub, untuk pemain, dan untuk penggemar.
Soal Handball, Interpretasi VAR Antar Liga Masih Jauh
Salah satu masalah terbesar yang dibahas dalam pertemuan itu adalah handball. Setiap liga ternyata memiliki interpretasi yang berbeda terhadap pelanggaran ini, dan kesenjangannya cukup mencolok. Premier League tercatat sebagai liga dengan interpretasi handball paling longgar musim lalu, yakni satu penalti handball setiap 17,27 pertandingan.
- Premier League (Inggris): 1 penalti handball setiap 17,27 pertandingan
- Bundesliga (Jerman): 1 penalti handball setiap 10,93 pertandingan
- La Liga (Spanyol): 1 penalti handball setiap 10,56 pertandingan
- Serie A (Italia): 1 penalti handball setiap 10,00 pertandingan
- Ligue 1 (Prancis): 1 penalti handball setiap 9,27 pertandingan
- Liga Champions: 1 penalti handball setiap 7 pertandingan
Frekuensi di Liga Champions itu menjadi yang tertinggi di Eropa sekaligus menunjukkan betapa sulitnya mencapai konsensus antar kompetisi. Rosetti mengakui bahwa persepsi tentang handball di Inggris memang berbeda dengan negara lain. “Sepak bola tidak sempurna, dan terkadang kita akan terus menghadapi situasi serupa yang ditafsirkan dengan cara berbeda. Tetapi setidaknya kita sedang bekerja bersama,” ujarnya. Menurutnya, tujuan utamanya adalah agar penerapan peraturan bisa lebih konsisten di semua kompetisi.
VAR Terlalu Sering Intervensi? Ini Kata Rosetti
Selain masalah handball, Rosetti juga menyoroti tingginya angka intervensi VAR di berbagai kompetisi. Dalam musim 2025-26, Premier League mencatatkan tingkat intervensi terendah di Eropa, yakni 0,29 per pertandingan. Sementara itu, Liga Champions mencatatkan angka 0,47 per laga, yang menunjukkan perbedaan filosofi yang sangat kontras.
Rosetti menegaskan bahwa “terlalu banyak review” justru berdampak negatif pada perilaku pemain. Banyak pemain yang mulai mencoba mencari-cari pelanggaran atau bermain demi mendapatkan keputusan VAR. Hal ini, menurutnya, telah menyimpang dari tujuan awal VAR yang ingin mengoreksi kesalahan nyata, bukan menciptakan masalah baru.
Rosetti bahkan merujuk pada gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona saat Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1986 sebagai contoh awal mula perlunya teknologi. “Kami ingin kembali ke asal-usul VAR,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya tidak lagi bahagia dengan penggunaan VAR seperti sekarang dan ingin menempatkan wasit kembali sebagai pusat permainan.
Protokol Baru VAR: Batas 90 Detik dan Tiga Tahap Pemutaran Ulang
Durasi peninjauan VAR juga menjadi perhatian khusus bagi Rosetti. Ia menilai review yang berlarut-larut dengan banyak tayangan ulang semakin tidak bisa diterima oleh pendukung. Menurutnya, pemeriksaan yang berlangsung lebih dari 90 detik berisiko “kehilangan kredibilitas”.
Untuk mengatasi hal ini, disepakati protokol kolektif baru dalam peninjauan di layar monitor. Wasit akan diperlihatkan gambar beku (freeze-frame) untuk menunjukkan titik kontak, kemudian tayangan dengan kecepatan setengah (half-speed), dan terakhir kecepatan penuh untuk menilai intensitas pelanggaran. Urutan ini dirancang agar wasit bisa menilai insiden secara lebih kontekstual.
“Kami menyukai wasit yang punya kepribadian dan mengambil keputusan di lapangan, dengan VAR hanya campur tangan untuk situasi yang jelas dan nyata,” jelas pria asal Italia itu. “Gambar yang jelas tanpa terlalu banyak tayangan ulang adalah hal yang sangat penting bagi kami. Kami melihat beberapa review di lapangan tidak terhubung dengan sepak bola. Ini tentang kecepatan normal, tentang konteks, tentang sepak bola.”
Harapan ke Depan: Konsistensi VAR Tanpa Menghilangkan Peran Wasit
Rosetti mengakui bahwa mencari pendekatan yang konsisten di semua liga bukanlah pekerjaan mudah, apalagi setiap kompetisi punya interpretasi sendiri terhadap sejumlah pelanggaran. Namun peluncuran Clear Line dan pertemuan dengan lima liga teratas Eropa diharapkan menjadi langkah awal menuju kesepahaman bersama. Dengan begitu, perbedaan yang ada tidak lagi menjadi alasan untuk menghindari perubahan.
“Kami menyadari bahwa saat ini tidak ada kepuasan di mana pun tentang bagaimana VAR memengaruhi sepak bola,” kata Rosetti. “Kami ingin menghindari situasi yang terlalu mikroskopis. Konteks itu sangat penting. Ini sepak bola, bukan PlayStation. Kami harus sangat, sangat berhati-hati.”
Ia menegaskan kembali prinsip utamanya: “Wasit harus memimpin pertandingan. Ini penting untuk sepak bola, untuk situasi yang jelas dan kesalahan yang jelas.” Dengan protokol baru dan portal Clear Line, Uefa berharap VAR bisa kembali menjadi alat bantu, bukan pengambil alih keputusan di lapangan.
Secara keseluruhan, Rosetti ingin mengembalikan VAR ke jalur semula, yaitu sebagai alat untuk mengoreksi kesalahan nyata, bukan untuk mengecek setiap detail kecil yang justru merusak ritme pertandingan. Perbedaan interpretasi antar liga, terutama soal handball, memang tidak akan hilang sepenuhnya. Namun langkah bersama yang mulai dibangun melalui Clear Line dan protokol baru setidaknya menjadi titik awal untuk memperbaiki citra VAR.
Bagi penggemar, kehadiran Clear Line bisa menjadi rujukan untuk memahami keputusan wasit dengan lebih bijak. Bagi para pemain, pesan Rosetti cukup jelas: jadilah pesepakbola yang bermain dengan semangat, karena sepak bola bukanlah PlayStation. Pada akhirnya, yang ingin dijaga adalah esensi permainan itu sendiri—cepat, dinamis, dan manusiawi.
