Sengketa Kontrak Mateta di Crystal Palace Berujung ke FIFA

Striker Crystal Palace, Jean-Philippe Mateta, resmi menantang keabsahan sisa kontraknya di klub. Pemain internasional Prancis itu membawa sengketa kontrak Mateta ini ke FIFA setelah sebelumnya menempuh jalur internal Premier League. Ia menilai sepuluh bulan terakhir masa baktinya di Selhurst Park tidak sah dan seharusnya tidak mengikat.

Crystal Palace

Kontrak Mateta sebenarnya baru akan berakhir pada Juni 2027. Namun, tahun terakhir dari kontrak tersebut merupakan opsi perpanjangan yang diaktifkan Palace pada 2024, dan Mateta menganggapnya batal demi hukum. Persoalan ini kian menarik perhatian karena sang striker merupakan salah satu pilar utama lini serang The Eagles dalam beberapa musim terakhir.

Kronologi Sengketa Kontrak Mateta di Crystal Palace

Mateta bergabung dengan Crystal Palace pada 2021 dari Mainz 05, awalnya dengan status pinjaman selama 18 bulan. Setelah dianggap memenuhi ekspektasi, ia kemudian dikontrak permanen pada Januari 2022 dengan durasi empat setengah tahun. Dalam kesepakatan itu, Palace juga menyematkan opsi perpanjangan selama 12 bulan.

Opsi tersebut akhirnya diaktifkan klub pada 2024, sehingga masa bakti Mateta otomatis bertambah hingga Juni 2027. Namun, pemain berusia 29 tahun itu justru mempersoalkan tahun tambahan tersebut. Ia menilai perpanjangan itu tidak sah dan melayangkan tantangan resmi atas keabsahannya.

Perkara ini sebelumnya sempat disidangkan oleh tribunal independen di bawah aturan Premier League. Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai hasilnya, sumber BBC Sport menyebut kontrak Mateta tetap dianggap mengikat. Karena itu, ia membawa argumennya ke jenjang yang lebih tinggi, yakni FIFA.

Putusan FIFA dan Peluang Menjadi Free Agent

FIFA baru saja mengambil sikap atas gugatan Mateta pekan ini. Badan sepak bola dunia tersebut menilai persoalan ini berada di luar yurisdiksinya, sehingga tidak berwenang membatalkan kontrak pemain. BBC Sport telah menghubungi perwakilan Mateta dan FIFA untuk meminta tanggapan, tetapi belum ada respons resmi.

Andai gugatan Mateta dikabulkan, ia berpotensi menjadi pemain bebas transfer sebelum kontraknya di Palace habis tahun depan. Hal ini jelas akan menjadi skenario terburuk bagi tim yang selama ini mengandalkannya sebagai ujung tombak. Pasalnya, Mateta telah mencetak 67 gol untuk klub dan menjadi aktor penting di balik sukses FA Cup serta Conference League pada era Oliver Glasner.

Ambisi Hengkang dan Transfer yang Gagal

Keinginan Mateta meninggalkan Palace sebenarnya sudah muncul sejak Januari lalu. Saat itu ia nyaris bergabung dengan AC Milan, tetapi kesepakatan batal karena masalah pada lututnya. Gagalnya transfer ini membuat Mateta bertahan di Selhurst Park, meski ia harus menepi sekitar dua bulan akibat cedera tersebut.

Menjelang kepergian Mateta yang sempat dianggap pasti, Palace bergerak cepat merekrut Jorgen Strand Larsen sebagai pengganti. Nilai kesepakatan mencapai £48 juta, dan Larsen langsung menjalani debut saat Palace menang atas Brighton musim lalu. Suporter Palace bahkan berulang kali meneriakkan nama Larsen sebagai bentuk dukungan di tengah situasi yang tidak menentu.

Saat kembali memperkuat tim pada Maret lalu, Mateta sempat dicemooh sebagian suporter dalam laga melawan AEK Larnaca. Namun, ia berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak gol di final Conference League. Musim itu ia menutupnya dengan torehan 16 gol di semua kompetisi.

Masalah Menumpuk di Awal Musim Palace

Situasi kontrak Mateta bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Palace di awal musim ini. Pada laga pembuka Premier League melawan Everton di Goodison Park, The Eagles harus pulang dengan kekalahan 0-2. Hasil tersebut tentu menjadi tekanan tersendiri bagi manajer anyar, Pierre Sage.

Lebih buruk lagi, bek Chadi Riad harus ditarik keluar dengan tandu setelah mengalami cedera lutut serius di pertandingan itu. Riad sejatinya sudah akrab dengan cedera lutut sejak bergabung pada 2024, bahkan sempat absen lebih dari 400 hari karena dua cedera beruntun. Kondisi ini jelas menambah panjang daftar kekhawatiran di lini belakang Palace.

Selain itu, Ismaila Sarr juga absen dari skuad pada laga pembuka. Sumber BBC Sport menyebut Sarr mengeluhkan cedera pangkal paha dan tidak berlatih dalam dua hari terakhir, di tengah ketertarikan Galatasaray. Palace sendiri menegaskan tidak ingin melepas Sarr, yang musim lalu mencetak 21 gol dan membantu klub memenangkan Community Shield serta Conference League, kecuali ada tawaran jauh di atas nilai pasarnya.

Status Pahlawan Kultus yang Mulai Terancam

Sengketa kontrak ini menjadi babak terbaru dari perjalanan Mateta yang penuh liku di Crystal Palace. Striker berusia 29 tahun itu telah menjadi pahlawan kultus berkat selebrasi khasnya menendang tiang bendera sudut sambil diteriaki “boom” oleh suporter. Ia pun mencetak gol kemenangan di final Conference League musim lalu.

Perjalanan Mateta di Palace tidak selalu mulus. Ia sempat menjalani awal yang lambat, tetapi transformasinya terjadi di bawah arahan mantan pelatih Oliver Glasner. Bersama pelatih asal Austria itu, Mateta menjadi salah satu striker paling andal di Premier League dengan 46 gol dalam 109 pertandingan di semua kompetisi.

Penampilan impresif itu membuat Mateta dilirik klub-klub besar Eropa. Ambisinya untuk bermain di level elite pun semakin nyata, dan kebuntuan kontrak saat ini menjadi konsekuensi dari performa yang ia tunjukkan selama ini.

Ambisi Timnas dan Masa Depan yang Tidak Pasti

Selain mengejar karier di klub-klub top Eropa, Mateta juga memiliki ambisi besar membela tim nasional Prancis. Ia mewujudkan mimpi itu pada Oktober tahun lalu, kemudian mengamankan tempat di skuad final 26 pemain untuk Piala Dunia. Kiprahnya di level internasional turut memperkuat posisi tawarnya dalam negosiasi kontrak.

Di satu sisi, Mateta adalah bagian penting dari periode tersukses dalam sejarah Palace, dengan koleksi FA Cup, Community Shield, dan Conference League. Namun di sisi lain, kebuntuan kontrak yang berkepanjangan berpotensi meninggalkan noda pada hubungannya dengan klub. Tekanan kini juga dirasakan Pierre Sage, yang harus memulai musim dengan kekalahan, cedera pemain, dan situasi transfer yang pelik.

Dengan FIFA yang menolak campur tangan dan kontrak yang tetap dianggap mengikat, Mateta harus mencari jalan keluar lain jika ingin berpisah lebih cepat. Apakah akan ada negosiasi ulang, atau justru bertahan hingga akhir musim? Yang jelas, drama sengketa kontrak Mateta di Crystal Palace masih jauh dari kata selesai.

Secara keseluruhan, posisi Mateta di Crystal Palace tengah berada di titik paling rumit sejak ia bergabung. Di atas kertas, ia masih terikat kontrak dan tetap dibutuhkan sebagai mesin gol. Namun, jika ketegangan ini tidak segera dicairkan, bukan tidak mungkin babak baru kariernya justru akan ditulis di tempat lain.